Senin, 24 Maret 2014

Paguyuban Kaulo Mudo Rantau Desa Gantang

Terbentuknya Paguyuban Kaulo mudo Rantau Desa Gantang Sawangan Magelang Tgl.9 Maret 2014
Paguyuban rantau adalah suatu komunitas anak rantau Desa Gantang yang pertama di selengarakan di Bekasi Timur,  terdir 15 Anggota.
Paguyuban di bentuk untuk saling mendekatkan dan mengeratkan tali persaudaraan karena faktor masing-masing individual yang menyebar atau merantau di beberapa kota, menjaga keharmonisan bersama agar tidak hilang begitu saja.  Pengalangan Dana sebagai Khas/Arisan untuk kepentingan secara bersama menyaring ide-ide kreaktif , dengan saling berdiskusi satu sama lain. 

Semoga hubungan ini tetap terjalin dan tetap axis dalam pertemuannya, sehinga kita semakin dekat dan lebih terbantu dan terdorong dalam support pekerjaan, maupun kekrasanan dalam perantauan.
makin sukses terus  dalam karir dan segala hal..












https://www.facebook.com/gerejafransiskus.gantang

Minggu, 22 Desember 2013

KISAH ROMO SANJOYO


Sandjaja (dibaca: Sanjoyo) dilahirkan di desa Sedan, Muntilan, Provinsi Jawa Tengah, Indonesia, pada tanggal 20 Mei 1914. Ayahnya bernama Willem Kromosendjojo, bekerja sebagai pembantu perawat di sebuah klinik Katolik yang dipimpin oleh misionaris Yesuit di Muntilan. Ibunya bernama Richarda Kasijah, dari keluarga katolik. Sandjaja mempunyai dua kakak perempuan dan seorang kakak laki-laki. Salah satu dari kakak perempuannya menjadi suster Fransiskan.

Sejak masa kanak-kanak Sandjaja sangat terkenal disekolahnya karena kepandaiannya. Dia masuk di SD Katholik yang dipimpin oleh para Bruder. Karena kecerdasannya, maka ia dikenal lebih suka belajar daripada bermain dalam hari-hari senggangnya. Sandjaja seorang yang berkepribadian sederhana, rendah hati, jujur dan terbuka terhadap satu sama lain. Sandjaja sangat suka memperhatikan hidup doanya, rajin mengikuti misa harian di gereja, dan sering mengunjungi gua Maria di Desa Sendangsono, untuk berdoa dan berefleksi. Ketertarikannya untuk menjadi imam berkembang ketika ia masih di SD.

Sandjaja diterima di seminari setelah dia lulus dari SMA. Ia hidup dalam kesucian yang luar biasa selama di seminari. Sandjaja ditahbiskan sebagai imam diosesan pada tanggal 13 Januari 1943 di Muntilan. Setelah pentahbisannya, ia terpilih sebagai pastor paroki di Muntilan. Sandjaja mendapat banyak kesulitan karena situasi perang, namun demikian ia sangat kuat dan percaya akan penyelenggaraan Ilahi, dan dengan alasan itulah beliau dapat menjalankan tugas-tugasnya dengan baik sebagai pastor paroki yang sangat bijaksana dan disukai oleh seluruh umat paroki Muntilan. Untuk beberapa kali bangunan Gereja dirusak oleh tentara perang yang tidak senang dengan karya missi. Walau begitu, ia tetap tabah dan disemangati oleh umat parokinya untuk memperbaiki dan membangun kembali gereja mereka. Bagi umat parokinya, Sandjaja selalu menunjukan kesederhanaannya, bijaksana dan memperhatikan sesama dalam seluruh hidupnya sebagai seorang pastor paroki. Meskipun banyak kesulitan, ia dapat menjaga hubungan baik dengan pemerintah resmi (penjajah Belanda).

Selama penjajahan Jepang tahun 1942 - 1945, banyak gereja yang dirusak dan kekayaan mereka dirampas. Dalam situasi seperti itu, Sandjaja harus melarikan diri dan bersembunyi di desa-desa untuk keselamatan sampai keadaan membaik. Selanjutnya, ia dapat kembali ke parokinya untuk membangun kembali gerejanya. Kemudian, ia mendapat tugas baru untuk mengajar di Seminari Tinggi di Yogyakarta, dan untuk membantu paroki tetangga di Magelang. Pada tahun 1948 terpilih sebagai guru dan Rektor di Seminari Menengah di Muntilan. Sandjaja selalu menunjukkan sikap kesediaannya untuk membantu Gereja dimanapun dan bagaimanapun kondisinya, dan ia melakukannya dengan baik.
Kondisi revolusi kemerdekaan Indonesia membuat rakyat Indonesia selalu waspada dengan segala bentuk hubungan dengan pemerintah Belanda. Kedekatan Romo Sandjaja (yang sebetulnya seorang pribumi) dengan pemerintah Belanda menjadikan ketidaksukaan para pejuang kepadanya, sehingga beberapa perilaku kejam tentara kolonial Belanda dalam membungkam para pejuang serta keluarganya diduga oleh para pejuang ada hubungannya dengan Romo Sandjaja. Pada tanggal 20 Desember 1948, ia menyelamatkan hidup teman imamnya dan seminaris dalam Seminarinya dengan menyerahkan dirinya kepada kelompok pemberontak pemerintah Belanda yang tidak menyukai sikap Romo Sandjaja. Pemuda Kauman Muntilan merusak sebagian dari komplek persekolahan di Muntilan. Delapan pemuda itu menculik imam dan frater. Dia adalah Romo Sandjaja, Pr dan Frater Herman A. Bouwens, SJ.

Bersama seorang seminaris Yesuit dari Belanda itu mereka diinterogasi, lalu dibunuh di lapangan terbuka di daerah pinggiran Muntilan. Jenazahnya bergelimpangan di sawah antara desa Kembaran dan Patosan. Dengan cepat Bapak Willem dan anaknya, Yohanes Redja pergi ke tempat tersebut. Jenazah mereka disapu dengan handuk kemudian dikubur di situ juga. Makamnya tidak dalam. Pemakaman ini dilakukan sekedar untuk menghilangkan jejak saja. Jenazah keduanya lalu dimakamkan kembali secara besar-besaran pada tanggal 5 Agustus 1950 di Kerkhop Muntilan. Dengan khidmat peti-peti mayat diusung oleh pramuka dan anggota-anggota Angkatan Udara dan dimakamkan di tempat pendiri Gereja di antara orang Jawa, yaitu Romo van Lith yang sudah beristirahat sejak tahun 1926.

Romo Sandjaja menjadi salah satu martir pertama yang sangat terkenal di Pulau Jawa. Sandjaja telah menjadi symbol ketabahan, kesucian, kesederhanaan, dan kesetiaan bagi umat Katolik.

Selasa, 16 April 2013

Jalan Salip Gantang

Jalan Salip Gereja Gantang Fransiskus Xaverius
Jumat 29 Maret 2013

Dari kali mangu sampai ke lokasi gereja  1,5 km
para umat katolik setasi Fransiskus Xaverius berbondong-bondong merayakan upacara sakral Jumat agung yang jatuh pada hari jumat 29 Maret 2013.
dengan mengunakan alat yang seadanya para umat
beriring-iringan mengikuti yesus yang di peragakan oleh para tokoh karekter yang sudah di pelajari  masing-masing .
begitu meriah dan tangis haru...ketika peragaan itu berlangsung
hinga seperti jaman dahulu waktu sengsara yesus di adili dan di jatuhi hukuman mati

dengan mengunakan salip kecil yang terbuat dari bambu para umat pun mengikuti arak- arakan berlangsung meski cuaca sangat panas tapi para umat tak mengeluhkan hal itu..

Gereja gantang memang sering mengadakan jalan salip di luar gereja di karenakan posisi yang sangat strategis karena gereja terletak pada puncak ahir arak-arakan itu seperti golgota sebutan waktu jaman pilatus dulu.
 










                                          Terlihat para prajurit serdadu memandangi yesus yang sudah selsai di salip kan



Sabtu, 09 Maret 2013

SENDANG SONO




 SENDANG SONO




Merupakan salah satu tempat sakral /ziarah di pulau jawa tepat nya di daerah kulon progo meski daerah nya sangat berbuki dan harus melalu jalur curam tajam dan mengerikan para mudika setasi gantang tak pernah mengeluh kan hal itu.suatu rutinitas yang di adakan antara bulan Mei /atau Oktober ini menjadi salah satu ziarah ,hiburan ,dan ber rekreasi karena tidak memerlukan waktu tempuh yang lama mungkin sekitar 1,5 jam sampai tujuan.Sendang sono tidak asing lagi terdengar di daerah kami mungkin dari 90% masarakat sudah pernah menjejaki tempat tersebut.
setiap menyambut kedatangan bulan maria mudika mengadakan suatu kunjungan ke sendang sono konon katanya sendang sono di ambil karena Romo Van Lith membaptis 171 orang desa dari daerah kalibawang di sekitar sendang sono, Kulon Progo. peristiwa ini di pandang sebagai lahirnya Gereja di antara Jawa dimana 171 orang menjadi peribumi pertama yang memeluk agama katolik. Lokasi pembaptisan ini yang sekarang menjadi tempat ziarah Sendangsono. terdapat sebuah sendang/kali di tempat itu juga terdapa pohon sono dan beringin yang menyatu persis di depan gua Maria..




panorama sangat indah terlihat dari atas bukit dan anak tangga-tanga /balkon lokasi setempat semakin mewarnai akan asri dan kesejukan sekitar.


Tempat ibadah yang rindang oleh suasana Alam terbuka sangat mengesankan

Minggu, 15 Juli 2012

mimpi



Do IT Now !!

mimpiMimpi memiliki sebuah kekuatan yang dahsyat. Namun demikian, kita harus tahu, meski impian itu dahsyat, tapi sebuah impian tidak akan pernah ada artinya, jika tidak diimbangi dengan tindakan. Bermimpi sukses tidak berarti kita sudah sukses. Bermimpi kaya tidak berarti kita sudah kaya. Bermimpi bekerja tidak berarti kita sudah mendapatkan pekerjaan. Bermimpi sehat bahagia tidak berarti kita sudah sehat bahagia.
“Kerja tanpa visi (impian) itu kuli, tapi visi tanpa tindakan adalah pemimpi/pengkhayal”
Banyak orang hidup di dalam mimpi, punya angan-angan dan cita-cita yang hebat, membayangkan, membuat perencanaan yang bagus, tetapi no action, akibatnya: tidak memperoleh apapun. Banyak orang bermimpi mendapatkan undian ratusan bahkan miliaran juta rupiah dari undian Bank, tetapi sebagian dari orang tsb bahkan tidak memiliki rekening tabungan di bank tsb.
Seperti itulah mimpi tanpa beraksi.
“Mimpi hanya akan memiliki kekuatan sejauh tindakan kita untuk mewujudkan impian itu.”
Stop Dreaming, Start Action !!
Tuhan memberi kita visi atau impian agar kita mau berjalan ke arah impian itu dan berusaha untuk mencapainya sehingga rancangan-Nya dapat digenapi dalam hidup kita. Jadi……Mari kita mengejar impian kita dan yakinlah bersama Tuhan kita akan sanggup dan Bisa !!
sumber 

Senin, 28 Mei 2012

Renungan


Doa Bapa Kami)
Mat. 6:9Maka berdoalah demikian, 'Bapa kami yang di surga, kami berdoa supaya nama-Mu selalu dikuduskan.
Mat. 6:10Kami berdoa supaya kerajaan-Mu datang, dan yang Engkau kehendaki terjadi di bumi ini sama seperti yang di surga.
Mat. 6:11Berikanlah kepada kami makanan yang kami perlukan setiap hari.
Mat. 6:12Ampunilah dosa yang telah kami lakukan seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami.
Mat. 6:13Janganlah biarkan kami dicobai, tetapi selamatkanlah kami dari yang jahat, [karena Engkaulah yang empunya Kerajaan, dan kuasa, dan kemuliaan sampai selama-lamanya. Amin.]'
Matius 28:18-20 (Amanat Agung)
Mat. 28:18Yesus datang kepada mereka dan berkata, "Semua kuasa di surga dan di bumi sudah diberikan kepada-Ku.
Mat. 28:19Pergilah dan jadikanlah semua bangsa pengikut-Ku. Baptislah mereka dalam nama Bapa, Anak, dan Roh Kudus.
Mat. 28:20Ajarlah mereka mematuhi semua yang telah Kukatakan kepada kamu. Dan lihatlah: Aku akan menyertai kamu setiap hari sampai akhir zaman."

Jumat, 27 Mei 2011

DISTORSI MATIUS 12: PERUMPAMAAN-PERUMPAMAAN

Matius menduga bahwa Yesus sering berbicara dalam bentuk perumpamaan-perumpamaan, dengan masud untuk tetap menyembunyikan kebenaran dari mereka yang tidak pantas mengetahuinya. Orang-orang semacam ini bisa mendengar Yesus berbicara, tetapi mereka tidak akan pernah bisa memahami pesannya. Sebaliknya, murid-murid Yesus mampu memahami "rahasia-rahasia" ini, yang tersimpan dalam perumpamaan-perumpamaan Yesus. Matius menganggap hal ini sebagai pemenuhan nubuat.1

Bersama mereka sesungguhnya terpenuhilah nubuat Yesaya yang mengatakan, "Engkau sesungguhnya akan mendengar, tetapi tidak pernah memahami, dan engkau sesungguhnya akan melihat, tetapi tidak pernah mencerap. Karena hati orang-orang ini telah menjadi tumpul, dan telinga mereka sulit untuk mendengar, dan mereka telah menutup mata mereka; demikianlah mereka tidak mungkin melihat dengan mata mereka, mendengar dengan telinga mereka, serta memahami dengan hati dan bakat mereka - dan aku akan menyembuhkan mereka". Tetapi diberkatilah matamu, karena mereka melihat, dan telingamu, karena mereka mendengar..2



JAWAB :


* Matius 13:10-17 (Lihat Matkus 4:10-12 & Lukas 8:9-10)
13:10 Maka datanglah murid-murid-Nya dan bertanya kepada-Nya: "Mengapa Engkau berkata-kata kepada mereka dalam perumpamaan?"
13:11 Jawab Yesus: "Kepadamu diberi karunia untuk mengetahui rahasia Kerajaan Sorga, tetapi kepada mereka tidak.
13:12 Karena siapa yang mempunyai, kepadanya akan diberi, sehingga ia berkelimpahan; tetapi siapa yang tidak mempunyai, apa pun juga yang ada padanya akan diambil dari padanya.
13:13 Itulah sebabnya Aku berkata-kata dalam perumpamaan kepada mereka; karena sekalipun melihat, mereka tidak melihat dan sekalipun mendengar, mereka tidak mendengar dan tidak mengerti.
13:14 Maka pada mereka genaplah nubuat Yesaya, yang berbunyi: Kamu akan mendengar dan mendengar, namun tidak mengerti, kamu akan melihat dan melihat, namun tidak menanggap.
13:15 Sebab hati bangsa ini telah menebal, dan telinganya berat mendengar, dan matanya melekat tertutup; supaya jangan mereka melihat dengan matanya dan mendengar dengan telinganya dan mengerti dengan hatinya, lalu berbalik sehingga Aku menyembuhkan mereka.
13:16 Tetapi berbahagialah matamu karena melihat dan telingamu karena mendengar.
13:17 Sebab Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya banyak nabi dan orang benar ingin melihat apa yang kamu lihat, tetapi tidak melihatnya, dan ingin mendengar apa yang kamu dengar, tetapi tidak mendengarnya.


Kontras antara benih yang berbuah dan benih-benih yang sia-sia dilanjutkan dengan penjelasan mengenai mengapa Yesus mempergunakan perumpamaan sebagai alat pengajar. Para muird ingin mengetahui mengapa Ia mengajar perumpamaan-perumpamaan jika Ia dapat menggunakan cara bicara yang sederhana dan langsung (ayat 10). Menjawab pertanyaan mereka, Yesus mengatakan bahwa karunia untuk mengetahui diberikan kepada para murid tetapi tidak kepada orang lain (ayat 11-12) dan bahwa para murid dianugerahi kemampuan untuk melihat dan mendengar secara khusus (ayat 16-17). karena orang lain gagal mengetahui dan mendengar pengajaran Yesus yang jelas tentang Kerajan, maka Ia menggunakan cara pengajaran dalam bentuk perumpamaan (ayat 13). ketidakmampuan secara umum untuk memahami ajaran Yesus dijelaskan pada ayat 14-15 sebagai pemenuhan Yesaya 6:9-10. Bandingkan dengan Yohanes 12:39-41; Kisah 28:26-27. Jangan dikira bahwa perumpamaan-perumpamaan itu untuk menghalangi orang percaya, yakni orang-orang yang akan percaya kalau perumpamaan tidak dipakai; tetapi perumpamaan itu membuat hati yang mulai bandel menjadi makin bandel (bandingkan Yohanes 9:39; Yohanes 3:17-19). Pendapat bahwa ini berarti mereka melihat perumpamaan-perumpamaan itu tapi tidak melihat kebenaran, dan karenanya perumpamaan adalah cara pengabaran Injil dengan ilustrasi-ilustrasi yang dengan jelas menunjukkan persoalan moral. Betapa lebih dan beruntungnya murid-murid dibandingkan dengan orang-orang kudus dalam Perjanjian Lama (bandingkan Ibrani 11:39-40).

Haleluyah!



Quote:
Di sini Matius menggunakan terjemahan Yesaya dari Septuaginta berbahasa Yunani..3 Pernyataan Yesaya sebenarnya adalah sebagai berikut.



JAWAB :


Jika menuduh Matius hanya berpegang kepada SEPTUAGINTA, penjelasan-penjelasan sebelumnya, saya selalu memakai TANAKH IBRANI kemudian dilinearkan dengan Matius, dan terbukti tuduhan-tuduhan diatas tidak berdasar.
Penulis berusaha menempatkan bahwa SEPTUAGINTA bukan sumber yang benar hanya karena menggunakan bahasa Yunani. Dan penulis diatas berusaha memberitahukan bahwa Matius "tidak mahir bahasa Ibrani". Tetapi pada penjelasan saya sebelumnya juga sudah menjelaskan bahwa Matius adalah seorang Yahudi yang bernama Lewi bin Alfeus (Markus 2:14).

Matius adalah salah satu murid Yesus. Matius adalah nama Yunaninya dan Lewi adalah nama Ibraninya. Sebagai pemungut cukai, Matius bekerja pada orang Romawi yang berbicara bahasa Latin & Yunani. Ia mengumpulkan pajak dari orang Yahudi yang berbicara bahasa Ibrani/Aram. Sebagai contoh lain, kita bisa melihat bahwa Petrus juga sering dipanggil Simon (Matius 16:16)

Septuaginta, yaitu terjemahan hanya Perjanjian Lama saja dalam bahasa Yunani. Terjemahan itu dibuat di Alexandria (Mesir) kira-kira tahun 285 S.M. Orang Yahudi yang tinggal di Yunani membutuhkan terjemahan dari Alkitab. Para kaum terpelajar pertama-tama menerjemahkan Hukum Taurat. Menurut tradisi, 70 (atau 72) kaum terpelajar Yahudi yang bekerja di Alexandria, Mesir menerjemahkan seluruh Perjanjian Lama ke dalam bahasa Yunani. Terjemahan ini dikenal dengan Septuaginta, yang diambil dari bahasa Latin berarti tujuh puluh. Jadi Septuaginta sudah beredar, sebelum era Kekristenan (286SM!). Dan penerjemahannya dilakukan oleh kalangan Yahudi penganut Yudaisme. Jadi seandainya Septuaginta itu dituduh sebagai "Kitab buatan Kristen" maka pendapat itu tidak benar.

Bahasa Yunani adalah bahasa internasional kala itu. Ini terjadi karena adanya perluasan jajahan dan pengembangan kebudayaan yang dilakukan oleh Aleksander Agung, maka bahasa Yunani berakar kuat di daerah Timur Dekat dan wilayah Laut Tengah yaitu mulai abad ke-4 sebelum Masehi.

Sedangkan dalam era Yesus Kristus, dengan adanya penjajahan Romawi, mengakibatkan adanya empat bahasa sbb:

[1] bahasa Ibrani merupakan bahasa liturgis, digunakan untuk membaca Torah, dan sebagainya, tidak digunakan sebagai bahasa sehari-hari, dikenal sebagai bahasa Ibrani Misyna karena adanya campur tangan para ahli Taurat menyusun Talmud;

[2] bahasa Aram, digunakan oleh orang Yahudi lokal sebagai bahasa sehari-hari;

[3] bahasa Yunani, digunakan oleh orang Yahudi pendatang sebagai bahasa pergaulan di Timur Dekat; pada umumnya Yahudi pendatang berbahasa Yunani ini mengunjungi Yerusalem dalam rangka transaksi bisnis dan ziarah ke Bait Allah; dan

[4] bahasa Latin, bahasa kaum penjajah yang digunakan oleh orang-orang Romawi yang menjajah Israel sejak tahun 63 sebelum Masehi.

Bahasa Yunani (koine Yunani) adalah bahasa kaum pedagang/terpelajar sejak penguasaan Alexander Agung. Sebagian besar dari orang Kristen mula-mula berbicara bahasa Yunani, dan karena itu gereja mula-mula menggunakan Tanakh Ibrani & Septuaginta yang merupakan terjemahan Perjanjian Lama. Namun kebutuhan untuk terjemahan Alkitab lainnya meningkat saat pemeluk Kristiani menyebar ke Syria dan ke negara berbahasa Latin. Alkitab diterjemahkan dalam bahasa Syriac dan Latin sekitar tahun 100 M.


Pertanyaannya, apakah menjadi masalah ketika seorang percaya menggunakan Alkitab (PL/PB) terjemahan?

Walaupun Alkitab dalam bahasa asli ditulis dalam Bahasa Ibrani (Hebrew) dan Bahasa Yunani (Greek). Tetapi Tuhan Allah tidak berbicara dalam bahasa Ibrani atau Yunani saja, karena Allah adalah untuk semua bangsa yang bermacam-macam bahasanya.
Christianity is all about hubungan intim dengan Tuhan, dalam berbagai bahasa, baik Indonesia, Inggris, Arab, Jawa dst, makanya Alkitab (yg adalah Firman Allah) juga harus dibuat tersedia dalam berbagai bahasa, seperti juga Tuhan mengungkapkan dirinya dalam berbagai bahasa.

Seorang Kristiani tidak perlu mampu menguasai suatu bahasa khusus (not Hebrew, not Greek, not Latin) untuk dia mampu bercakap2 dengan Tuhan. Karena tidak semua orang mampu memahami bahasa asli Alkitab dan berita keselamatan lebih effektif disampaikan lewat bahasa yang bersangkutan, namun bagi yang ingin belajar bahasa asli Alkitab -- terutama kalangan cerdik-pandai -- tentu saja kesempatan untuk itu tetap tersedia.
Dan selalu ada kesempatan bagi setiap kalangan yang ingin mempelajari Alkitab dalam bahasa Asli.


Quote:
Kemudian aku mendengar suara Tuhan bersabda, "Siapa yang akan aku utus, dan siapa yang akan menghampiri kami?" Dan aku berkata, "Inilah aku: utuslah aku!" Dan ia bersabda, "Pergilan dan katakan pada orang-orang ini, Teruslah mendengarkan, tetapi jangan memahami; tetaplah melihat, tetapi tidak mengerti". Buatlah pikiran mereka tumpul, dan hentikanlah pendengaran mereka, tutuplah mata mereka, sehingga mreka tidak mungkin melihat dengan mata mereka, mendengar dengan telinga mereka, serta memahami dengan pikiran dan bakat mereka, kemudian mereka akan disembuhkan."4

Berbagai perbedaan antara kutipan dari Yesaya di atas dan terjemahan Matius atas pernyataan ini bisa dinisbahkan kepada Matius yang menggunakan versi Yesaya dari Septuaginta berbahasa Yunani, alih-alih teks Yesaya yang berbahasa Ibrani. Sebagaimana dijelaskan sebelumnya, sandaran Matius pada Septuaginta berbahasa Yunani merupakan bukti yang kuat bahwa penyusun Matius bukanlah salah seorang murid Yesus, bahkan juga bukan seorang Yahudi dari Palestina. Namun, penyusun Matius harus dilihat sebagai seorang Yahudi yang terhellenisasi atau orang Kristen non-Yahudi, yang hidup di Pengungsian (mungkin di Suriah).

Akan tetapi, penggunaan Septuaginta berbahasa Yunani bukanlah persoalan yang sebenarnya dalam terjemahan Yesaya Matius. Persoalan sebenarnya adalah bahwa Matius berusaha memilih kata-kata Yesaya menjadi sebuah nubuat datangnya seorang Juru Selamat. Dengan sekali lagi mengeluarkan satu ayat tersebut dari konteks yang sebenarnya. Dengan menghapus bagian awal ayat Yesaya, dimana Yesaya konon secara suka-rela menyampaikan pesan dari Allah, Matius menyembunyikan fakta bahwa pesan Yesaya itu sebenarnya membicarakan tentang diutusnya Yesaya sebagai seorang nabi Allah.5 Pesan ini jelas mengidentifikasi Yesaya sebagai seorang rasul yang dibicarakan, dan dengan jelas mengidentifikasi peristiwa-pwristiwa yang telah digenapi selama masa hidup Yesaya. Sekali lagi, bualan Matius mengenai pemenuhan nubuat gagal mencapai sasaran. Sekali lagi, dalam pengujian atas beberapa ayat Perjanjian Lama di atas mengungkapkan bahwa Matius telah menyobek kain dari ayat Perjanjian Lama dengan berusaha membentangkannya agar sesuai dengan kehidupan dan kerasulan Yesus. sumber artike.http://www.sarapanpagi.org