bner

Jumat, 30 Mei 2014

Kisah Inspirasi

Cerpen


DESAKU KOTAKU ISTANAKU
Suatu ketika teringat kala itu ku terlahir di sebuah desa lereng merbabu, sebuah anugerah yang takkan mungkin kulupakan sampai dengan detik ini, kenangan demi kenangan kucoba mengingat masa laluku. Masa yang penuh kasih, suasana senang, gembira, menghiasi hati, disanalah kasih sayangku selalu berlabuh. Enam tahun sudah waktu kini berlalu, begitu cepat kumeningalkan segalanya demi mengadu nasib di hamparan kota Metropolitan, sawah berubah mejadi kawasan industry, cangkul pun berubah menjadi secorak pulpen dan media pintar, teringat dikala pagi menjelang kehidupan desa mulai tampak begitu sunyi dan mengalunkan suasana ketenangan, damai pun terlihat saat itu. Di bawah gubuk bambu sebagai istana dan tempat tinggalku, walau begitu sederhana terasa nyaman dan takkan jadikan suatu kendala, dinding berlobang sebagai AC kala matahari membakar kulit hitam ku. Terbuat dari anyaman bambu yang menghias dalam sudut rumah ku kala itu, aku takan pernah menyesal telah terlahir dalam dunia kesederhanaan, kesedehanaan yang membawa ku mengerti arti jalan hidup yang sesungguhnya. Sudut pandang arti sebuah desa terkadang  manusia salah mengartikan sebuah desa yang kumuh, jorok dan membosankan itu kata mereka! tapi tidak seperti itu juga, desa lebih nyaman dan lebih ramah lingkungan selain bisa irit dalam hal belanja, kita juga bisa mengetahui sebuah pengalaman tentang kesederhanaan, kebersamaan, dan kerukunan. Dalam masyarakat desa tersebut, jurang dan bukit terjal sudah biasa. karena memang desa ku terletak di sebuah lereng gunung Merbabu, pemandangan yang menarik ditemani deretan iring iringan sayur mayur yang tumbuh di halaman sekitar, menjadikan  suasana terasa hidup di alam bebas. Masa kecil ku memang termasuk tak seberuntung masa kecil teman-teman yang lain, karena di  masa itu aku terlahir dan tumbuh dikalangan orang yang tidak punya/boleh dikatakana orang yang tidak mampu,,orang tua ku sebagai petani itu pun kami tidak mempunyai lahan sendiri ( maro) arti kata dalam bahasa Jawa atau bisa diterjemahkan menggarap tanah milik orang, kala panen nanti bisa bagi hasil. Itu pun hanya cukup untuk buat makan sehari-hari saja tak ada lebih, malah sering kekurangan. Begitu susahnya keluarga ku kala itu, tapi kami sikapi semua itu dengan rasa syukur karena kami masih bisa makan dan menikmati kebersamaan yang begitu sempurna. Terkadang manusia mengeluh karena nasib yang mereka dera akan tetapi nasib itu takan berarti apa-apa jikalau kita jalani dengan suka cita dan berusaha terlepas dari belenggu. Nasib takan kekal jikalau kita mau berusaha merubahnya dengan tekun dan sunguh-sunguh, begitu prinsip saya waktu itu. Jikalau pagi tiba matahari mulai tampak dari ufuk timur keramaian kokok ayam pun mulai terdengar dari beberapa penjuru di desa ku, seketika itu pun aktifitas akan dimulai. Ayah ku bergegas ambil cangkul dan siap menggempur beberapa gundukan tanah untuk menjadikan sebuah lahan agar bisa dijadikan tempat untuk kita  menanam, begitu kagum dan bangga ku mempunyai ayah seperti beliau yang begitu kuat tahan banting tulang demi masa depanku dan demi kecukupan keluarga. Terik mentari seolah membakar dan menguras semua tenaga tetapi ayah ku tak mempedulikan hal itu, beliau begitu demi orang yang dicintai dan cita-citanya, aku kagum dan bangga jikalau melihat kegigihan nya jika kelak aku besar nanti pengen seperti bliau yang begitu semangat. tepat pukul 09-30  ibu datang dan membawakan minuman dan beberapa makanan walaupun hanya ubi rebus yang dibawa, tetapi sangatlah membantu dan bermanfaat bagi ayah ku. Sembari keringat terkucur-kucur keluar dari badan ayah dengan lahapnya kami pun menyantap ubi tersebut, sepoy angin dan pohon seakan berlambai-lambai menjadikan pemandangan yang menarik pada siang hari itu, Ayah ku pernah bercerita tentang masa kecil nya dulu dan itu merupakan sebagai cerita faforit ku kala itu, terdengar suara yang sangat lantang dan kelihatan gigi yang hilang separuh di sapu rata oleh usia dan ayahku bercerita, begitu sedihnya ku mendengar alunan cerita yang membawa dan menghanyutkan ku dalam rasa iba karena memang ayah ku hanyalah seorang sebatangkara bapak dan ibunya telah meningalkannya ketika ayah berusia 7 Th dan untuk menumpang hidup ayah di pungut oleh mbok rumini dengan sedih nya ayah ku menuturkan, aku merupakan anak bungsu dari dua bersaudara, kakak ku perempuan dan aku merupakan salah satu anak laki laki dari mereka, aku putus sekolah karena memang faktor ekonomi dari keluarga yang tidak bisa meneruskan sekolah ku kala itu, aku hanya bisa menikmati sekolah Rakyat selain lokasi sekolah yang begitu jauh pada biaya pun menjadi kendala utama, tapi aku takkan memasalahkan hal itu karean aku memahami betul kehidupan di keluarga waktu itu, begitu besar cita-citaku yang mengantung dan takkan mungkin terlaksana, tetapi selalu ku panjatkan syukur walau kekangan ilmu yang begitu sempit kesempatan pasti kan datang menjemput ku kelak, suara hati ku selalu berharap. Teringat kembali bila pagi menjelang keluarga kumpul dan bercengkrama didepan tungku sambil berdiskusi, canda tawa, keceriaan bersama membuat ku teringat dengan kebersamaan dulu sembari dibuatkan ibu secangkir teh hangat, bisa membuat kala pagi itu menjadi hangat, karena memang di desaku sangatlah dingin, bila malam atau pagi menjelang kabut pun masih setia menjaga rumah kecil itu, mentari pun belum nampak batang hidungnya,
kira-kira jam 08.00  baru bisa menikmati kehangatan cahaya Alam yang diberikan sang Illahi bagi kehidupan didesa ku.  Mentari terbit lebih lambat karena memang di desaku kala itu terletak di lereng gunung. Serpihan demi serpihan kini ku coba mengingat, dan merasakan kembali masalalu yang begitu berarti dalam hidup ku masalalu yang membuat mata ini menangis, masalalu yang membuat kebanggan, dan masa-masa pertumbuhan waktu kecil dulu , ‘’Seburuk apapun Desaku , aku tetap bagian dari situ dan disanalah awal mula kehidupanku”  Seratus rupiah pesangon dari ibu untuk bekal sekolah, semenjak kecil aku memang tergolong Anak yang tidak suka jajan setiap uang saku dari ibu pasti ku simpan bukan buat jajan di sekolah melainkan buat beli gundu atau karet sesudah pulang sekolah,  itu menjadi kebiasaan ku sehari-hari, setiap pulang sekolah aku tidak langsung pulang melainkan lgsung memainkan gundu ku yang sudah kubeli tadi permainan nya sangat unik dan menarik cari ubin yang datar atau tanah yang datar  lalu di garis lingkar selebar jam dinding nanti di situ akan di putuskan setiap peserta yang mengikuti permainan itu harus meletakan klerengnya tiga biji atau mau di bikin berapaan tergantung kesepakatan bersama waktu itu..kami pun mulai baris dan permainan akan segera di mulai setiap peserta baris dan melemparkan master klereng bagi yang terdekat dengan lingkaran  maka dialah yang memulai duluan master di slentik sekeras mungkin biar bisa menghancurkan kelereng yang ada dalam lingkaran tadi klau ada beberapa klereng yang keluar lingkaran nah maka akan menjadi miliknya tapi kalau justru kelereng master tadi nyelip dan tidak bisa keluar dari lingkaran atau malah parkir di dalam lingkaran maka di angap gagal dan tidak boleh mengikuti permainan lagi setelah sore pulang pasti dapat hukuman dari ibu sebuah cabe merah telah menantang di depan ku dan sering kali ibu ku menghukum tidak dengan kekerasan melainkan dengan cabe di leletin di bibir atau mulutku itu sangat panas sekali jika di rasakan, membuat ketawa jika peristiwa itu teringat kembali. suat hari aku bertanya pada ibuku buk... ? Tanya ku kenapa ibu setiap kali jika ku salah hukuman nya knapa harus pake cabe kan panas ? kata ku, lalu ibu jawap sambil senyum ketawa, nak jabe tidak akan melukai jikalau hanya terkena lidah ataupun mulut. sakitnya hanya beberapa saat, tetapi jikalau ibu menghukum dengan pukul, atau kekerasan lainnya maka itu akan membekas dan merugikan ibu sendiri jawap ibu sambil mengelus kepalaku, tapi jujur semenjak aku kecil belum pernah sedikit pun  ibu ku melukai atau memukul ku, karena senjata yang di gemari ibu adalah cabe...sejarah asal usul memang menarik jika di kenang ataupun di ceritakan kembali banyak cerita lucu di balik kepolosan menjadikan ku mengerti arti hidup dalam kesederhanaan,kebersamaan, dan menjadikan motifasi tentang menghargai antar sesama. 

 Cerpen 1
Penulis    : Antonius Giarno
e-maile     : Gerejagantang@yahoo.co.id
Phone      : 087877333842/ 087771777056
.
 
 

Senin, 24 Maret 2014

Paguyuban Kaulo Mudo Rantau Desa Gantang

Terbentuknya Paguyuban Kaulo mudo Rantau Desa Gantang Sawangan Magelang Tgl.9 Maret 2014
Paguyuban rantau adalah suatu komunitas anak rantau Desa Gantang yang pertama di selengarakan di Bekasi Timur,  terdir 15 Anggota.
Paguyuban di bentuk untuk saling mendekatkan dan mengeratkan tali persaudaraan karena faktor masing-masing individual yang menyebar atau merantau di beberapa kota, menjaga keharmonisan bersama agar tidak hilang begitu saja.  Pengalangan Dana sebagai Khas/Arisan untuk kepentingan secara bersama menyaring ide-ide kreaktif , dengan saling berdiskusi satu sama lain. 

Semoga hubungan ini tetap terjalin dan tetap axis dalam pertemuannya, sehinga kita semakin dekat dan lebih terbantu dan terdorong dalam support pekerjaan, maupun kekrasanan dalam perantauan.
makin sukses terus  dalam karir dan segala hal..












https://www.facebook.com/gerejafransiskus.gantang

Minggu, 22 Desember 2013

Kisah Romo Sanjoyo

Sandjaja (dibaca: Sanjoyo) dilahirkan di desa Sedan, Muntilan, Provinsi Jawa Tengah, Indonesia, pada tanggal 20 Mei 1914. Ayahnya bernama Willem Kromosendjojo, bekerja sebagai pembantu perawat di sebuah klinik Katolik yang dipimpin oleh misionaris Yesuit di Muntilan. Ibunya bernama Richarda Kasijah, dari keluarga katolik. Sandjaja mempunyai dua kakak perempuan dan seorang kakak laki-laki. Salah satu dari kakak perempuannya menjadi suster Fransiskan.

Sejak masa kanak-kanak Sandjaja sangat terkenal disekolahnya karena kepandaiannya. Dia masuk di SD Katholik yang dipimpin oleh para Bruder. Karena kecerdasannya, maka ia dikenal lebih suka belajar daripada bermain dalam hari-hari senggangnya. Sandjaja seorang yang berkepribadian sederhana, rendah hati, jujur dan terbuka terhadap satu sama lain. Sandjaja sangat suka memperhatikan hidup doanya, rajin mengikuti misa harian di gereja, dan sering mengunjungi gua Maria di Desa Sendangsono, untuk berdoa dan berefleksi. Ketertarikannya untuk menjadi imam berkembang ketika ia masih di SD.

Sandjaja diterima di seminari setelah dia lulus dari SMA. Ia hidup dalam kesucian yang luar biasa selama di seminari. Sandjaja ditahbiskan sebagai imam diosesan pada tanggal 13 Januari 1943 di Muntilan. Setelah pentahbisannya, ia terpilih sebagai pastor paroki di Muntilan. Sandjaja mendapat banyak kesulitan karena situasi perang, namun demikian ia sangat kuat dan percaya akan penyelenggaraan Ilahi, dan dengan alasan itulah beliau dapat menjalankan tugas-tugasnya dengan baik sebagai pastor paroki yang sangat bijaksana dan disukai oleh seluruh umat paroki Muntilan. Untuk beberapa kali bangunan Gereja dirusak oleh tentara perang yang tidak senang dengan karya missi. Walau begitu, ia tetap tabah dan disemangati oleh umat parokinya untuk memperbaiki dan membangun kembali gereja mereka. Bagi umat parokinya, Sandjaja selalu menunjukan kesederhanaannya, bijaksana dan memperhatikan sesama dalam seluruh hidupnya sebagai seorang pastor paroki. Meskipun banyak kesulitan, ia dapat menjaga hubungan baik dengan pemerintah resmi (penjajah Belanda).

Selama penjajahan Jepang tahun 1942 - 1945, banyak gereja yang dirusak dan kekayaan mereka dirampas. Dalam situasi seperti itu, Sandjaja harus melarikan diri dan bersembunyi di desa-desa untuk keselamatan sampai keadaan membaik. Selanjutnya, ia dapat kembali ke parokinya untuk membangun kembali gerejanya. Kemudian, ia mendapat tugas baru untuk mengajar di Seminari Tinggi di Yogyakarta, dan untuk membantu paroki tetangga di Magelang. Pada tahun 1948 terpilih sebagai guru dan Rektor di Seminari Menengah di Muntilan. Sandjaja selalu menunjukkan sikap kesediaannya untuk membantu Gereja dimanapun dan bagaimanapun kondisinya, dan ia melakukannya dengan baik.
Kondisi revolusi kemerdekaan Indonesia membuat rakyat Indonesia selalu waspada dengan segala bentuk hubungan dengan pemerintah Belanda. Kedekatan Romo Sandjaja (yang sebetulnya seorang pribumi) dengan pemerintah Belanda menjadikan ketidaksukaan para pejuang kepadanya, sehingga beberapa perilaku kejam tentara kolonial Belanda dalam membungkam para pejuang serta keluarganya diduga oleh para pejuang ada hubungannya dengan Romo Sandjaja. Pada tanggal 20 Desember 1948, ia menyelamatkan hidup teman imamnya dan seminaris dalam Seminarinya dengan menyerahkan dirinya kepada kelompok pemberontak pemerintah Belanda yang tidak menyukai sikap Romo Sandjaja. Pemuda Kauman Muntilan merusak sebagian dari komplek persekolahan di Muntilan. Delapan pemuda itu menculik imam dan frater. Dia adalah Romo Sandjaja, Pr dan Frater Herman A. Bouwens, SJ.

Bersama seorang seminaris Yesuit dari Belanda itu mereka diinterogasi, lalu dibunuh di lapangan terbuka di daerah pinggiran Muntilan. Jenazahnya bergelimpangan di sawah antara desa Kembaran dan Patosan. Dengan cepat Bapak Willem dan anaknya, Yohanes Redja pergi ke tempat tersebut. Jenazah mereka disapu dengan handuk kemudian dikubur di situ juga. Makamnya tidak dalam. Pemakaman ini dilakukan sekedar untuk menghilangkan jejak saja. Jenazah keduanya lalu dimakamkan kembali secara besar-besaran pada tanggal 5 Agustus 1950 di Kerkhop Muntilan. Dengan khidmat peti-peti mayat diusung oleh pramuka dan anggota-anggota Angkatan Udara dan dimakamkan di tempat pendiri Gereja di antara orang Jawa, yaitu Romo van Lith yang sudah beristirahat sejak tahun 1926.

Romo Sandjaja menjadi salah satu martir pertama yang sangat terkenal di Pulau Jawa. Sandjaja telah menjadi symbol ketabahan, kesucian, kesederhanaan, dan kesetiaan bagi umat Katolik.

.

Selamat Datang Berkah Dalem Poro Pamerso Gereja Fransiskus Xaverius Gantang Sawangan Magelang http//:gerejagantangsawanganmagelang blokspot.com