Jumat, 30 Mei 2014

Kisah Inspirasi

Cerpen


DESAKU KOTAKU ISTANAKU
Suatu ketika teringat kala itu ku terlahir di sebuah desa lereng merbabu, sebuah anugerah yang takkan mungkin kulupakan sampai dengan detik ini, kenangan demi kenangan kucoba mengingat masa laluku. Masa yang penuh kasih, suasana senang, gembira, menghiasi hati, disanalah kasih sayangku selalu berlabuh. Enam tahun sudah waktu kini berlalu, begitu cepat kumeningalkan segalanya demi mengadu nasib di hamparan kota Metropolitan, sawah berubah mejadi kawasan industry, cangkul pun berubah menjadi secorak pulpen dan media pintar, teringat dikala pagi menjelang kehidupan desa mulai tampak begitu sunyi dan mengalunkan suasana ketenangan, damai pun terlihat saat itu. Di bawah gubuk bambu sebagai istana dan tempat tinggalku, walau begitu sederhana terasa nyaman dan takkan jadikan suatu kendala, dinding berlobang sebagai AC kala matahari membakar kulit hitam ku. Terbuat dari anyaman bambu yang menghias dalam sudut rumah ku kala itu, aku takan pernah menyesal telah terlahir dalam dunia kesederhanaan, kesedehanaan yang membawa ku mengerti arti jalan hidup yang sesungguhnya. Sudut pandang arti sebuah desa terkadang  manusia salah mengartikan sebuah desa yang kumuh, jorok dan membosankan itu kata mereka! tapi tidak seperti itu juga, desa lebih nyaman dan lebih ramah lingkungan selain bisa irit dalam hal belanja, kita juga bisa mengetahui sebuah pengalaman tentang kesederhanaan, kebersamaan, dan kerukunan. Dalam masyarakat desa tersebut, jurang dan bukit terjal sudah biasa. karena memang desa ku terletak di sebuah lereng gunung Merbabu, pemandangan yang menarik ditemani deretan iring iringan sayur mayur yang tumbuh di halaman sekitar, menjadikan  suasana terasa hidup di alam bebas. Masa kecil ku memang termasuk tak seberuntung masa kecil teman-teman yang lain, karena di  masa itu aku terlahir dan tumbuh dikalangan orang yang tidak punya/boleh dikatakana orang yang tidak mampu,,orang tua ku sebagai petani itu pun kami tidak mempunyai lahan sendiri ( maro) arti kata dalam bahasa Jawa atau bisa diterjemahkan menggarap tanah milik orang, kala panen nanti bisa bagi hasil. Itu pun hanya cukup untuk buat makan sehari-hari saja tak ada lebih, malah sering kekurangan. Begitu susahnya keluarga ku kala itu, tapi kami sikapi semua itu dengan rasa syukur karena kami masih bisa makan dan menikmati kebersamaan yang begitu sempurna. Terkadang manusia mengeluh karena nasib yang mereka dera akan tetapi nasib itu takan berarti apa-apa jikalau kita jalani dengan suka cita dan berusaha terlepas dari belenggu. Nasib takan kekal jikalau kita mau berusaha merubahnya dengan tekun dan sunguh-sunguh, begitu prinsip saya waktu itu. Jikalau pagi tiba matahari mulai tampak dari ufuk timur keramaian kokok ayam pun mulai terdengar dari beberapa penjuru di desa ku, seketika itu pun aktifitas akan dimulai. Ayah ku bergegas ambil cangkul dan siap menggempur beberapa gundukan tanah untuk menjadikan sebuah lahan agar bisa dijadikan tempat untuk kita  menanam, begitu kagum dan bangga ku mempunyai ayah seperti beliau yang begitu kuat tahan banting tulang demi masa depanku dan demi kecukupan keluarga. Terik mentari seolah membakar dan menguras semua tenaga tetapi ayah ku tak mempedulikan hal itu, beliau begitu demi orang yang dicintai dan cita-citanya, aku kagum dan bangga jikalau melihat kegigihan nya jika kelak aku besar nanti pengen seperti bliau yang begitu semangat. tepat pukul 09-30  ibu datang dan membawakan minuman dan beberapa makanan walaupun hanya ubi rebus yang dibawa, tetapi sangatlah membantu dan bermanfaat bagi ayah ku. Sembari keringat terkucur-kucur keluar dari badan ayah dengan lahapnya kami pun menyantap ubi tersebut, sepoy angin dan pohon seakan berlambai-lambai menjadikan pemandangan yang menarik pada siang hari itu, Ayah ku pernah bercerita tentang masa kecil nya dulu dan itu merupakan sebagai cerita faforit ku kala itu, terdengar suara yang sangat lantang dan kelihatan gigi yang hilang separuh di sapu rata oleh usia dan ayahku bercerita, begitu sedihnya ku mendengar alunan cerita yang membawa dan menghanyutkan ku dalam rasa iba karena memang ayah ku hanyalah seorang sebatangkara bapak dan ibunya telah meningalkannya ketika ayah berusia 7 Th dan untuk menumpang hidup ayah di pungut oleh mbok rumini dengan sedih nya ayah ku menuturkan, aku merupakan anak bungsu dari dua bersaudara, kakak ku perempuan dan aku merupakan salah satu anak laki laki dari mereka, aku putus sekolah karena memang faktor ekonomi dari keluarga yang tidak bisa meneruskan sekolah ku kala itu, aku hanya bisa menikmati sekolah Rakyat selain lokasi sekolah yang begitu jauh pada biaya pun menjadi kendala utama, tapi aku takkan memasalahkan hal itu karean aku memahami betul kehidupan di keluarga waktu itu, begitu besar cita-citaku yang mengantung dan takkan mungkin terlaksana, tetapi selalu ku panjatkan syukur walau kekangan ilmu yang begitu sempit kesempatan pasti kan datang menjemput ku kelak, suara hati ku selalu berharap. Teringat kembali bila pagi menjelang keluarga kumpul dan bercengkrama didepan tungku sambil berdiskusi, canda tawa, keceriaan bersama membuat ku teringat dengan kebersamaan dulu sembari dibuatkan ibu secangkir teh hangat, bisa membuat kala pagi itu menjadi hangat, karena memang di desaku sangatlah dingin, bila malam atau pagi menjelang kabut pun masih setia menjaga rumah kecil itu, mentari pun belum nampak batang hidungnya,
kira-kira jam 08.00  baru bisa menikmati kehangatan cahaya Alam yang diberikan sang Illahi bagi kehidupan didesa ku.  Mentari terbit lebih lambat karena memang di desaku kala itu terletak di lereng gunung. Serpihan demi serpihan kini ku coba mengingat, dan merasakan kembali masalalu yang begitu berarti dalam hidup ku masalalu yang membuat mata ini menangis, masalalu yang membuat kebanggan, dan masa-masa pertumbuhan waktu kecil dulu , ‘’Seburuk apapun Desaku , aku tetap bagian dari situ dan disanalah awal mula kehidupanku”  Seratus rupiah pesangon dari ibu untuk bekal sekolah, semenjak kecil aku memang tergolong Anak yang tidak suka jajan setiap uang saku dari ibu pasti ku simpan bukan buat jajan di sekolah melainkan buat beli gundu atau karet sesudah pulang sekolah,  itu menjadi kebiasaan ku sehari-hari, setiap pulang sekolah aku tidak langsung pulang melainkan lgsung memainkan gundu ku yang sudah kubeli tadi permainan nya sangat unik dan menarik cari ubin yang datar atau tanah yang datar  lalu di garis lingkar selebar jam dinding nanti di situ akan di putuskan setiap peserta yang mengikuti permainan itu harus meletakan klerengnya tiga biji atau mau di bikin berapaan tergantung kesepakatan bersama waktu itu..kami pun mulai baris dan permainan akan segera di mulai setiap peserta baris dan melemparkan master klereng bagi yang terdekat dengan lingkaran  maka dialah yang memulai duluan master di slentik sekeras mungkin biar bisa menghancurkan kelereng yang ada dalam lingkaran tadi klau ada beberapa klereng yang keluar lingkaran nah maka akan menjadi miliknya tapi kalau justru kelereng master tadi nyelip dan tidak bisa keluar dari lingkaran atau malah parkir di dalam lingkaran maka di angap gagal dan tidak boleh mengikuti permainan lagi setelah sore pulang pasti dapat hukuman dari ibu sebuah cabe merah telah menantang di depan ku dan sering kali ibu ku menghukum tidak dengan kekerasan melainkan dengan cabe di leletin di bibir atau mulutku itu sangat panas sekali jika di rasakan, membuat ketawa jika peristiwa itu teringat kembali. suat hari aku bertanya pada ibuku buk... ? Tanya ku kenapa ibu setiap kali jika ku salah hukuman nya knapa harus pake cabe kan panas ? kata ku, lalu ibu jawap sambil senyum ketawa, nak jabe tidak akan melukai jikalau hanya terkena lidah ataupun mulut. sakitnya hanya beberapa saat, tetapi jikalau ibu menghukum dengan pukul, atau kekerasan lainnya maka itu akan membekas dan merugikan ibu sendiri jawap ibu sambil mengelus kepalaku, tapi jujur semenjak aku kecil belum pernah sedikit pun  ibu ku melukai atau memukul ku, karena senjata yang di gemari ibu adalah cabe...sejarah asal usul memang menarik jika di kenang ataupun di ceritakan kembali banyak cerita lucu di balik kepolosan menjadikan ku mengerti arti hidup dalam kesederhanaan,kebersamaan, dan menjadikan motifasi tentang menghargai antar sesama. 

 Cerpen 1
Penulis    : Antonius Giarno
e-maile     : Gerejagantang@yahoo.co.id
Phone      : 087877333842/ 087771777056
.
 
 

Senin, 24 Maret 2014

Paguyuban Kaulo Mudo Rantau Desa Gantang

Terbentuknya Paguyuban Kaulo mudo Rantau Desa Gantang Sawangan Magelang Tgl.9 Maret 2014
Paguyuban rantau adalah suatu komunitas anak rantau Desa Gantang yang pertama di selengarakan di Bekasi Timur,  terdir 15 Anggota.
Paguyuban di bentuk untuk saling mendekatkan dan mengeratkan tali persaudaraan karena faktor masing-masing individual yang menyebar atau merantau di beberapa kota, menjaga keharmonisan bersama agar tidak hilang begitu saja.  Pengalangan Dana sebagai Khas/Arisan untuk kepentingan secara bersama menyaring ide-ide kreaktif , dengan saling berdiskusi satu sama lain. 

Semoga hubungan ini tetap terjalin dan tetap axis dalam pertemuannya, sehinga kita semakin dekat dan lebih terbantu dan terdorong dalam support pekerjaan, maupun kekrasanan dalam perantauan.
makin sukses terus  dalam karir dan segala hal..












https://www.facebook.com/gerejafransiskus.gantang

Minggu, 22 Desember 2013

Kisah Romo Sanjoyo

Sandjaja (dibaca: Sanjoyo) dilahirkan di desa Sedan, Muntilan, Provinsi Jawa Tengah, Indonesia, pada tanggal 20 Mei 1914. Ayahnya bernama Willem Kromosendjojo, bekerja sebagai pembantu perawat di sebuah klinik Katolik yang dipimpin oleh misionaris Yesuit di Muntilan. Ibunya bernama Richarda Kasijah, dari keluarga katolik. Sandjaja mempunyai dua kakak perempuan dan seorang kakak laki-laki. Salah satu dari kakak perempuannya menjadi suster Fransiskan.

Sejak masa kanak-kanak Sandjaja sangat terkenal disekolahnya karena kepandaiannya. Dia masuk di SD Katholik yang dipimpin oleh para Bruder. Karena kecerdasannya, maka ia dikenal lebih suka belajar daripada bermain dalam hari-hari senggangnya. Sandjaja seorang yang berkepribadian sederhana, rendah hati, jujur dan terbuka terhadap satu sama lain. Sandjaja sangat suka memperhatikan hidup doanya, rajin mengikuti misa harian di gereja, dan sering mengunjungi gua Maria di Desa Sendangsono, untuk berdoa dan berefleksi. Ketertarikannya untuk menjadi imam berkembang ketika ia masih di SD.

Sandjaja diterima di seminari setelah dia lulus dari SMA. Ia hidup dalam kesucian yang luar biasa selama di seminari. Sandjaja ditahbiskan sebagai imam diosesan pada tanggal 13 Januari 1943 di Muntilan. Setelah pentahbisannya, ia terpilih sebagai pastor paroki di Muntilan. Sandjaja mendapat banyak kesulitan karena situasi perang, namun demikian ia sangat kuat dan percaya akan penyelenggaraan Ilahi, dan dengan alasan itulah beliau dapat menjalankan tugas-tugasnya dengan baik sebagai pastor paroki yang sangat bijaksana dan disukai oleh seluruh umat paroki Muntilan. Untuk beberapa kali bangunan Gereja dirusak oleh tentara perang yang tidak senang dengan karya missi. Walau begitu, ia tetap tabah dan disemangati oleh umat parokinya untuk memperbaiki dan membangun kembali gereja mereka. Bagi umat parokinya, Sandjaja selalu menunjukan kesederhanaannya, bijaksana dan memperhatikan sesama dalam seluruh hidupnya sebagai seorang pastor paroki. Meskipun banyak kesulitan, ia dapat menjaga hubungan baik dengan pemerintah resmi (penjajah Belanda).

Selama penjajahan Jepang tahun 1942 - 1945, banyak gereja yang dirusak dan kekayaan mereka dirampas. Dalam situasi seperti itu, Sandjaja harus melarikan diri dan bersembunyi di desa-desa untuk keselamatan sampai keadaan membaik. Selanjutnya, ia dapat kembali ke parokinya untuk membangun kembali gerejanya. Kemudian, ia mendapat tugas baru untuk mengajar di Seminari Tinggi di Yogyakarta, dan untuk membantu paroki tetangga di Magelang. Pada tahun 1948 terpilih sebagai guru dan Rektor di Seminari Menengah di Muntilan. Sandjaja selalu menunjukkan sikap kesediaannya untuk membantu Gereja dimanapun dan bagaimanapun kondisinya, dan ia melakukannya dengan baik.
Kondisi revolusi kemerdekaan Indonesia membuat rakyat Indonesia selalu waspada dengan segala bentuk hubungan dengan pemerintah Belanda. Kedekatan Romo Sandjaja (yang sebetulnya seorang pribumi) dengan pemerintah Belanda menjadikan ketidaksukaan para pejuang kepadanya, sehingga beberapa perilaku kejam tentara kolonial Belanda dalam membungkam para pejuang serta keluarganya diduga oleh para pejuang ada hubungannya dengan Romo Sandjaja. Pada tanggal 20 Desember 1948, ia menyelamatkan hidup teman imamnya dan seminaris dalam Seminarinya dengan menyerahkan dirinya kepada kelompok pemberontak pemerintah Belanda yang tidak menyukai sikap Romo Sandjaja. Pemuda Kauman Muntilan merusak sebagian dari komplek persekolahan di Muntilan. Delapan pemuda itu menculik imam dan frater. Dia adalah Romo Sandjaja, Pr dan Frater Herman A. Bouwens, SJ.

Bersama seorang seminaris Yesuit dari Belanda itu mereka diinterogasi, lalu dibunuh di lapangan terbuka di daerah pinggiran Muntilan. Jenazahnya bergelimpangan di sawah antara desa Kembaran dan Patosan. Dengan cepat Bapak Willem dan anaknya, Yohanes Redja pergi ke tempat tersebut. Jenazah mereka disapu dengan handuk kemudian dikubur di situ juga. Makamnya tidak dalam. Pemakaman ini dilakukan sekedar untuk menghilangkan jejak saja. Jenazah keduanya lalu dimakamkan kembali secara besar-besaran pada tanggal 5 Agustus 1950 di Kerkhop Muntilan. Dengan khidmat peti-peti mayat diusung oleh pramuka dan anggota-anggota Angkatan Udara dan dimakamkan di tempat pendiri Gereja di antara orang Jawa, yaitu Romo van Lith yang sudah beristirahat sejak tahun 1926.

Romo Sandjaja menjadi salah satu martir pertama yang sangat terkenal di Pulau Jawa. Sandjaja telah menjadi symbol ketabahan, kesucian, kesederhanaan, dan kesetiaan bagi umat Katolik.

Selasa, 16 April 2013

Jalan Salip Gantang

Jalan Salip Gereja Gantang Fransiskus Xaverius
Jumat 29 Maret 2013

Dari kali mangu sampai ke lokasi gereja  1,5 km
para umat katolik setasi Fransiskus Xaverius berbondong-bondong merayakan upacara sakral Jumat agung yang jatuh pada hari jumat 29 Maret 2013.
dengan mengunakan alat yang seadanya para umat
beriring-iringan mengikuti yesus yang di peragakan oleh para tokoh karekter yang sudah di pelajari  masing-masing .
begitu meriah dan tangis haru...ketika peragaan itu berlangsung
hinga seperti jaman dahulu waktu sengsara yesus di adili dan di jatuhi hukuman mati

dengan mengunakan salip kecil yang terbuat dari bambu para umat pun mengikuti arak- arakan berlangsung meski cuaca sangat panas tapi para umat tak mengeluhkan hal itu..

Gereja gantang memang sering mengadakan jalan salip di luar gereja di karenakan posisi yang sangat strategis karena gereja terletak pada puncak ahir arak-arakan itu seperti golgota sebutan waktu jaman pilatus dulu.
 










                                          Terlihat para prajurit serdadu memandangi yesus yang sudah selsai di salip kan



Sabtu, 09 Maret 2013

SENDANG SONO




 SENDANG SONO




Merupakan salah satu tempat sakral /ziarah di pulau jawa tepat nya di daerah kulon progo meski daerah nya sangat berbuki dan harus melalu jalur curam tajam dan mengerikan para mudika setasi gantang tak pernah mengeluh kan hal itu.suatu rutinitas yang di adakan antara bulan Mei /atau Oktober ini menjadi salah satu ziarah ,hiburan ,dan ber rekreasi karena tidak memerlukan waktu tempuh yang lama mungkin sekitar 1,5 jam sampai tujuan.Sendang sono tidak asing lagi terdengar di daerah kami mungkin dari 90% masarakat sudah pernah menjejaki tempat tersebut.
setiap menyambut kedatangan bulan maria mudika mengadakan suatu kunjungan ke sendang sono konon katanya sendang sono di ambil karena Romo Van Lith membaptis 171 orang desa dari daerah kalibawang di sekitar sendang sono, Kulon Progo. peristiwa ini di pandang sebagai lahirnya Gereja di antara Jawa dimana 171 orang menjadi peribumi pertama yang memeluk agama katolik. Lokasi pembaptisan ini yang sekarang menjadi tempat ziarah Sendangsono. terdapat sebuah sendang/kali di tempat itu juga terdapa pohon sono dan beringin yang menyatu persis di depan gua Maria..




panorama sangat indah terlihat dari atas bukit dan anak tangga-tanga /balkon lokasi setempat semakin mewarnai akan asri dan kesejukan sekitar.


Tempat ibadah yang rindang oleh suasana Alam terbuka sangat mengesankan

Senin, 28 Mei 2012

Renungan


Doa Bapa Kami)
Mat. 6:9Maka berdoalah demikian, 'Bapa kami yang di surga, kami berdoa supaya nama-Mu selalu dikuduskan.
Mat. 6:10Kami berdoa supaya kerajaan-Mu datang, dan yang Engkau kehendaki terjadi di bumi ini sama seperti yang di surga.
Mat. 6:11Berikanlah kepada kami makanan yang kami perlukan setiap hari.
Mat. 6:12Ampunilah dosa yang telah kami lakukan seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami.
Mat. 6:13Janganlah biarkan kami dicobai, tetapi selamatkanlah kami dari yang jahat, [karena Engkaulah yang empunya Kerajaan, dan kuasa, dan kemuliaan sampai selama-lamanya. Amin.]'
Matius 28:18-20 (Amanat Agung)
Mat. 28:18Yesus datang kepada mereka dan berkata, "Semua kuasa di surga dan di bumi sudah diberikan kepada-Ku.
Mat. 28:19Pergilah dan jadikanlah semua bangsa pengikut-Ku. Baptislah mereka dalam nama Bapa, Anak, dan Roh Kudus.
Mat. 28:20Ajarlah mereka mematuhi semua yang telah Kukatakan kepada kamu. Dan lihatlah: Aku akan menyertai kamu setiap hari sampai akhir zaman."

Jumat, 27 Mei 2011

DISTORSI MATIUS 12: PERUMPAMAAN-PERUMPAMAAN

Matius menduga bahwa Yesus sering berbicara dalam bentuk perumpamaan-perumpamaan, dengan masud untuk tetap menyembunyikan kebenaran dari mereka yang tidak pantas mengetahuinya. Orang-orang semacam ini bisa mendengar Yesus berbicara, tetapi mereka tidak akan pernah bisa memahami pesannya. Sebaliknya, murid-murid Yesus mampu memahami "rahasia-rahasia" ini, yang tersimpan dalam perumpamaan-perumpamaan Yesus. Matius menganggap hal ini sebagai pemenuhan nubuat.1

Bersama mereka sesungguhnya terpenuhilah nubuat Yesaya yang mengatakan, "Engkau sesungguhnya akan mendengar, tetapi tidak pernah memahami, dan engkau sesungguhnya akan melihat, tetapi tidak pernah mencerap. Karena hati orang-orang ini telah menjadi tumpul, dan telinga mereka sulit untuk mendengar, dan mereka telah menutup mata mereka; demikianlah mereka tidak mungkin melihat dengan mata mereka, mendengar dengan telinga mereka, serta memahami dengan hati dan bakat mereka - dan aku akan menyembuhkan mereka". Tetapi diberkatilah matamu, karena mereka melihat, dan telingamu, karena mereka mendengar..2



JAWAB :


* Matius 13:10-17 (Lihat Matkus 4:10-12 & Lukas 8:9-10)
13:10 Maka datanglah murid-murid-Nya dan bertanya kepada-Nya: "Mengapa Engkau berkata-kata kepada mereka dalam perumpamaan?"
13:11 Jawab Yesus: "Kepadamu diberi karunia untuk mengetahui rahasia Kerajaan Sorga, tetapi kepada mereka tidak.
13:12 Karena siapa yang mempunyai, kepadanya akan diberi, sehingga ia berkelimpahan; tetapi siapa yang tidak mempunyai, apa pun juga yang ada padanya akan diambil dari padanya.
13:13 Itulah sebabnya Aku berkata-kata dalam perumpamaan kepada mereka; karena sekalipun melihat, mereka tidak melihat dan sekalipun mendengar, mereka tidak mendengar dan tidak mengerti.
13:14 Maka pada mereka genaplah nubuat Yesaya, yang berbunyi: Kamu akan mendengar dan mendengar, namun tidak mengerti, kamu akan melihat dan melihat, namun tidak menanggap.
13:15 Sebab hati bangsa ini telah menebal, dan telinganya berat mendengar, dan matanya melekat tertutup; supaya jangan mereka melihat dengan matanya dan mendengar dengan telinganya dan mengerti dengan hatinya, lalu berbalik sehingga Aku menyembuhkan mereka.
13:16 Tetapi berbahagialah matamu karena melihat dan telingamu karena mendengar.
13:17 Sebab Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya banyak nabi dan orang benar ingin melihat apa yang kamu lihat, tetapi tidak melihatnya, dan ingin mendengar apa yang kamu dengar, tetapi tidak mendengarnya.


Kontras antara benih yang berbuah dan benih-benih yang sia-sia dilanjutkan dengan penjelasan mengenai mengapa Yesus mempergunakan perumpamaan sebagai alat pengajar. Para muird ingin mengetahui mengapa Ia mengajar perumpamaan-perumpamaan jika Ia dapat menggunakan cara bicara yang sederhana dan langsung (ayat 10). Menjawab pertanyaan mereka, Yesus mengatakan bahwa karunia untuk mengetahui diberikan kepada para murid tetapi tidak kepada orang lain (ayat 11-12) dan bahwa para murid dianugerahi kemampuan untuk melihat dan mendengar secara khusus (ayat 16-17). karena orang lain gagal mengetahui dan mendengar pengajaran Yesus yang jelas tentang Kerajan, maka Ia menggunakan cara pengajaran dalam bentuk perumpamaan (ayat 13). ketidakmampuan secara umum untuk memahami ajaran Yesus dijelaskan pada ayat 14-15 sebagai pemenuhan Yesaya 6:9-10. Bandingkan dengan Yohanes 12:39-41; Kisah 28:26-27. Jangan dikira bahwa perumpamaan-perumpamaan itu untuk menghalangi orang percaya, yakni orang-orang yang akan percaya kalau perumpamaan tidak dipakai; tetapi perumpamaan itu membuat hati yang mulai bandel menjadi makin bandel (bandingkan Yohanes 9:39; Yohanes 3:17-19). Pendapat bahwa ini berarti mereka melihat perumpamaan-perumpamaan itu tapi tidak melihat kebenaran, dan karenanya perumpamaan adalah cara pengabaran Injil dengan ilustrasi-ilustrasi yang dengan jelas menunjukkan persoalan moral. Betapa lebih dan beruntungnya murid-murid dibandingkan dengan orang-orang kudus dalam Perjanjian Lama (bandingkan Ibrani 11:39-40).

Haleluyah!



Quote:
Di sini Matius menggunakan terjemahan Yesaya dari Septuaginta berbahasa Yunani..3 Pernyataan Yesaya sebenarnya adalah sebagai berikut.



JAWAB :


Jika menuduh Matius hanya berpegang kepada SEPTUAGINTA, penjelasan-penjelasan sebelumnya, saya selalu memakai TANAKH IBRANI kemudian dilinearkan dengan Matius, dan terbukti tuduhan-tuduhan diatas tidak berdasar.
Penulis berusaha menempatkan bahwa SEPTUAGINTA bukan sumber yang benar hanya karena menggunakan bahasa Yunani. Dan penulis diatas berusaha memberitahukan bahwa Matius "tidak mahir bahasa Ibrani". Tetapi pada penjelasan saya sebelumnya juga sudah menjelaskan bahwa Matius adalah seorang Yahudi yang bernama Lewi bin Alfeus (Markus 2:14).

Matius adalah salah satu murid Yesus. Matius adalah nama Yunaninya dan Lewi adalah nama Ibraninya. Sebagai pemungut cukai, Matius bekerja pada orang Romawi yang berbicara bahasa Latin & Yunani. Ia mengumpulkan pajak dari orang Yahudi yang berbicara bahasa Ibrani/Aram. Sebagai contoh lain, kita bisa melihat bahwa Petrus juga sering dipanggil Simon (Matius 16:16)

Septuaginta, yaitu terjemahan hanya Perjanjian Lama saja dalam bahasa Yunani. Terjemahan itu dibuat di Alexandria (Mesir) kira-kira tahun 285 S.M. Orang Yahudi yang tinggal di Yunani membutuhkan terjemahan dari Alkitab. Para kaum terpelajar pertama-tama menerjemahkan Hukum Taurat. Menurut tradisi, 70 (atau 72) kaum terpelajar Yahudi yang bekerja di Alexandria, Mesir menerjemahkan seluruh Perjanjian Lama ke dalam bahasa Yunani. Terjemahan ini dikenal dengan Septuaginta, yang diambil dari bahasa Latin berarti tujuh puluh. Jadi Septuaginta sudah beredar, sebelum era Kekristenan (286SM!). Dan penerjemahannya dilakukan oleh kalangan Yahudi penganut Yudaisme. Jadi seandainya Septuaginta itu dituduh sebagai "Kitab buatan Kristen" maka pendapat itu tidak benar.

Bahasa Yunani adalah bahasa internasional kala itu. Ini terjadi karena adanya perluasan jajahan dan pengembangan kebudayaan yang dilakukan oleh Aleksander Agung, maka bahasa Yunani berakar kuat di daerah Timur Dekat dan wilayah Laut Tengah yaitu mulai abad ke-4 sebelum Masehi.

Sedangkan dalam era Yesus Kristus, dengan adanya penjajahan Romawi, mengakibatkan adanya empat bahasa sbb:

[1] bahasa Ibrani merupakan bahasa liturgis, digunakan untuk membaca Torah, dan sebagainya, tidak digunakan sebagai bahasa sehari-hari, dikenal sebagai bahasa Ibrani Misyna karena adanya campur tangan para ahli Taurat menyusun Talmud;

[2] bahasa Aram, digunakan oleh orang Yahudi lokal sebagai bahasa sehari-hari;

[3] bahasa Yunani, digunakan oleh orang Yahudi pendatang sebagai bahasa pergaulan di Timur Dekat; pada umumnya Yahudi pendatang berbahasa Yunani ini mengunjungi Yerusalem dalam rangka transaksi bisnis dan ziarah ke Bait Allah; dan

[4] bahasa Latin, bahasa kaum penjajah yang digunakan oleh orang-orang Romawi yang menjajah Israel sejak tahun 63 sebelum Masehi.

Bahasa Yunani (koine Yunani) adalah bahasa kaum pedagang/terpelajar sejak penguasaan Alexander Agung. Sebagian besar dari orang Kristen mula-mula berbicara bahasa Yunani, dan karena itu gereja mula-mula menggunakan Tanakh Ibrani & Septuaginta yang merupakan terjemahan Perjanjian Lama. Namun kebutuhan untuk terjemahan Alkitab lainnya meningkat saat pemeluk Kristiani menyebar ke Syria dan ke negara berbahasa Latin. Alkitab diterjemahkan dalam bahasa Syriac dan Latin sekitar tahun 100 M.


Pertanyaannya, apakah menjadi masalah ketika seorang percaya menggunakan Alkitab (PL/PB) terjemahan?

Walaupun Alkitab dalam bahasa asli ditulis dalam Bahasa Ibrani (Hebrew) dan Bahasa Yunani (Greek). Tetapi Tuhan Allah tidak berbicara dalam bahasa Ibrani atau Yunani saja, karena Allah adalah untuk semua bangsa yang bermacam-macam bahasanya.
Christianity is all about hubungan intim dengan Tuhan, dalam berbagai bahasa, baik Indonesia, Inggris, Arab, Jawa dst, makanya Alkitab (yg adalah Firman Allah) juga harus dibuat tersedia dalam berbagai bahasa, seperti juga Tuhan mengungkapkan dirinya dalam berbagai bahasa.

Seorang Kristiani tidak perlu mampu menguasai suatu bahasa khusus (not Hebrew, not Greek, not Latin) untuk dia mampu bercakap2 dengan Tuhan. Karena tidak semua orang mampu memahami bahasa asli Alkitab dan berita keselamatan lebih effektif disampaikan lewat bahasa yang bersangkutan, namun bagi yang ingin belajar bahasa asli Alkitab -- terutama kalangan cerdik-pandai -- tentu saja kesempatan untuk itu tetap tersedia.
Dan selalu ada kesempatan bagi setiap kalangan yang ingin mempelajari Alkitab dalam bahasa Asli.


Quote:
Kemudian aku mendengar suara Tuhan bersabda, "Siapa yang akan aku utus, dan siapa yang akan menghampiri kami?" Dan aku berkata, "Inilah aku: utuslah aku!" Dan ia bersabda, "Pergilan dan katakan pada orang-orang ini, Teruslah mendengarkan, tetapi jangan memahami; tetaplah melihat, tetapi tidak mengerti". Buatlah pikiran mereka tumpul, dan hentikanlah pendengaran mereka, tutuplah mata mereka, sehingga mreka tidak mungkin melihat dengan mata mereka, mendengar dengan telinga mereka, serta memahami dengan pikiran dan bakat mereka, kemudian mereka akan disembuhkan."4

Berbagai perbedaan antara kutipan dari Yesaya di atas dan terjemahan Matius atas pernyataan ini bisa dinisbahkan kepada Matius yang menggunakan versi Yesaya dari Septuaginta berbahasa Yunani, alih-alih teks Yesaya yang berbahasa Ibrani. Sebagaimana dijelaskan sebelumnya, sandaran Matius pada Septuaginta berbahasa Yunani merupakan bukti yang kuat bahwa penyusun Matius bukanlah salah seorang murid Yesus, bahkan juga bukan seorang Yahudi dari Palestina. Namun, penyusun Matius harus dilihat sebagai seorang Yahudi yang terhellenisasi atau orang Kristen non-Yahudi, yang hidup di Pengungsian (mungkin di Suriah).

Akan tetapi, penggunaan Septuaginta berbahasa Yunani bukanlah persoalan yang sebenarnya dalam terjemahan Yesaya Matius. Persoalan sebenarnya adalah bahwa Matius berusaha memilih kata-kata Yesaya menjadi sebuah nubuat datangnya seorang Juru Selamat. Dengan sekali lagi mengeluarkan satu ayat tersebut dari konteks yang sebenarnya. Dengan menghapus bagian awal ayat Yesaya, dimana Yesaya konon secara suka-rela menyampaikan pesan dari Allah, Matius menyembunyikan fakta bahwa pesan Yesaya itu sebenarnya membicarakan tentang diutusnya Yesaya sebagai seorang nabi Allah.5 Pesan ini jelas mengidentifikasi Yesaya sebagai seorang rasul yang dibicarakan, dan dengan jelas mengidentifikasi peristiwa-pwristiwa yang telah digenapi selama masa hidup Yesaya. Sekali lagi, bualan Matius mengenai pemenuhan nubuat gagal mencapai sasaran. Sekali lagi, dalam pengujian atas beberapa ayat Perjanjian Lama di atas mengungkapkan bahwa Matius telah menyobek kain dari ayat Perjanjian Lama dengan berusaha membentangkannya agar sesuai dengan kehidupan dan kerasulan Yesus. sumber artike.http://www.sarapanpagi.org

Minggu, 01 Mei 2011

NOVENA TIGA SALAMARIA




Bunda Maria, Perawan yang berkuasa, bagimu tidak ada sesuatu yang tak mungkin, karena kuasa yang dianugerahkan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa kepadamu. Dengan sangat aku mohon pertolonganmu dalma kesulitanku ini, janganlah hendaknya engkau meninggalkan aku, sebab aku yakin engkau pasti dapat menolong, meski dalam perkara yang sulit, yang sudah tidak ada harapannya, engkau tetap menjadi pengantara bagi Puteramu.

Baik keluhuran Tuhan, penghormatanku kepadamu maupun keselamatan jiwaku akan bertambah seandainya engkau sudi mengabulkan segala permohonanku ini. Karenanya, kalau permohonanku ini benar-benar sesuai dengan kehendak Puteramu, dengan sangat aku moho, o Bunda, sudilah meneruskan segala permohonanku ini ke hadirat Puteramu, yang pasti tak akan menolakmu.

Pengharapanku yang besar ini, berdasarkan atas kuasa yang tak terbatas yang dianugerahkan oleh Allah Bapa kepadamu. Dan untuk menghormati besarnya kuasamu itu, aku berdoa bersama dengan St.Mechtildis yang kau bertahukan tentang kebaikan doa "Tiga Salam Maria", yang sangat besar manfaatnya itu.

(Salam Maria........3x)

Perawan Suci yang disebut Tahta Kebijaksanaan, karena Sabda Allah tinggal padamu, engkau dianugerahi pengetahuan Ilahi yang tak terhingga oleh Puteramu, sebagai makhluk yang paling sempurna untuk dapat menerimanya.

Engkau tahu betapa besar kesulitan yang kuhadapin ini, betapa besar pengharapanku akan pertolonganmu. Dengan penuh kepercayaan akan tingginya kebijaksanaanmu, aku menyerahkan diri seutuhnya kepadamu, supaya engkau dapat mengatur dengan segala kesanggupan dan kebaikan budi, demi keluhuran Tuhan dan keselamatan jiwaku. Sudilah kiranya Bunda dapat menolong dengan segala cara yang paling tepat untuk terkabulnya permohonanku ini.

O Maria, Bunda Kebijaksanaan Ilahi, sudilah kiranya Bunda berkenan mengabulkan permohonanku yang mendesak ini. Aku memohon berdasarkan atas kebijaksanaanmu yang tiada bandingnya, yang dikaruniakan oleh Puteramu melalui Sabda Ilahi kepadamu.

Bersama dengan St. Antonius dari Padua dan St. Leonardus dari Porto Mauritio, yang rajin mewartakan tentang devosi "Tiga Salam Maria" aku berdoa untuk menghormati kebijaksanaanmu yang tiada taranya itu

(Salam Maria........3x)

O Bunda yang baik dan lembut hati, Bunda Kerahiman Sejati yang akhir-akhir ini disebut sebagai "Bunda yang penuh belas kasih", aku datang padamu, memohon dengan sangat, sudilah kiranya Bunda memperlihatkan belas kasihmu kepadaku. Makin besar kepapaanku, makin besar pula belas kasihmu kepadaku.

Aku tahu, bahwa aku tidak pantas mendapat karunia itu. Sebab seringkali aku menyedihkan hatimu dengan menghina Puteramu yang kudus itu. Betapapun besarnya kesalahanku, namun aku sangat menyesal telah melukai Hati Kudus Yesus dan hatikudusmu.

Engkau memperkenalkan diri sebagai "Bunda para pendosa yang bertobat" kepada St. Brigita, maka ampunilah kiranya segala kurang rasa terima kasihku padamu. Ingatlah akan keluhuran Puteramu saja serta kerahiman dan kebaikan hatimu yang terpancar dengan mengabulkan permohonanku ini melalui perantaraan Puteramu.

O Bunda, Perawan yang penuh kebaikan serta lembut dan manis, belum pernah ada orang yang datang padamu dan memohon pertolongamu engkau biarkan begitu saja. Atas kerahiman dan kebaikanmu, aku berharap dengan sangat, agar aku dianugerahi Roh Kudus. Dan demi keluhuranmu, bersama St. Alfonsus Ligouri, rasul kerahimanmu serta pengajar devosi "Tiga Salam Maria", aku berdoa untuk menghormati kerahimanmu dan kebaikanmu.

(Salam Maria........3x)

Kamis, 21 April 2011

Relikui Don Bosco ada di Jakarta, 7-12 Maret


Relikui Santo Yohanes Bosco akan tiba di tanah air pada hari Senin, 7 Maret setelah dua minggu lebih berada di Timor Leste. Relikui tersebut akan berada di Indonesia hingga 12 Maret.

Kunjungan relikui santo pencinta orang muda ini merupakan peristiwa istimewa yang patut disyukuri oleh umat Katolik Indonesia.

Dalam keterangannya, 2 Maret, Pastor Boedirahardjo Soerjonoto SDB, Delegatus SDB di Indonesia, menyampaikan rincian acara selama relikui berada di Jakarta.

Pada 7 Maret malam hari relikui akan tiba di bandar udara Soekarno Hatta Jakarta dari Dili, Timor Leste. Sebelumnya direncanakan, relikui akan tiba di lapangan terbang Halim Perdana Kusuma. Setelahnya akan langsung dibawa dan disemayamkan di Wisma Salesian Don Bosco di Sunter Jaya, Jakarta Utara.

Pada 8 Maret sejak pagi hingga sore hari, para pastor, bruder dan kooperator (ordo ketiga) SDB mengadakan kegiatan internal berupa rekoleksi dengan pembicara utama Pastor Jose Carbonell SDB.

Rekoleksi mengambil tema Return to Don Bosco. Sore harinya, relikui akan dibawa ke Gereja Santo Yohanes Bosco, Danau Sunter, Jakarta Utara. Setibanya di gereja ini, diadakan ibadat singkat dipimpin oleh Pastor Kepala Paroki. Setelahnya umat akan diberi kesempatan untuk memberi penghormatan hingga tengah malam (tuguran).

Pada 9 - 11 Maret, pagi hari pukul 09.00, diselenggarakan Misa khusus bagi kaum muda dan siswa. Malam harinya, pukul 19.00, Misa untuk umum dipimpin oleh Uskup Agung Jakarta ( 9/3), Uskup Purwokerto (10/3) dan Uskup Surabaya (11/3). Misa pagi hari jam 06.00 berjalan seperti biasa.

Pada 12 Maret pagi hari, relikui akan diterbangkan menuju China dari bandar udara Soekarno Hatta, Jakarta.

Pastor Boedirahardjo mengundang umat Katolik untuk dapat hadir dalam peristiwa dan kegiatan istimewa ini.

Menurut beliau, akan juga diadakan beberapa acara diantaranya pemutaran film berjudul “Saint John Bosco Mission to Love”.

Perjalanan relikui ke 130 negara merupakan bagian dari peringatan 150 tahun kehadiran Tarekat Salesian Don Bosco (1859-2009) di dunia dan 200 tahun kelahiran Santo Yohanes Bosco (1815-2015).

Penyambutan ‘Urna Relikui’ (urna=peti kaca) Santo Yohanes Bosco di setiap negara yang dikunjungi selalu meriah.

Di Timor Leste, Presiden Jose Ramos Horta, PM Xanana Gusmao, dan pejabat tinggi lainnya turut menyambut kedatangan Don Bosco pada 18 Februari di Dili, bersama ribuan umat Katolik lainnya. Di sana mereka menyanyi Viva Don Bosco.

sumber artikel cc.http://www.cathnewsindonesia.com

Senin, 11 April 2011

sabda Tuhan sabda kebenaran
tak berubah sampai ahir jaman
sabda Tuhan itu sabda cinta
sabda damai bagi manusia
tanpa Yesus kita orang miskin
tanpa Yesus hati kita dingin
dengan yesus kita amat kaya
hati kita kan ber sukaria

Minggu, 10 April 2011

MENURUTMU, SIAPAKAH AKU INI?


Bacaan: Zak 12: 10-11; Gal 3: 26-29; Luk 9: 18-24
Tetapi apa katamu, siapakah AKU ini? Itulah pertanyaan yang ditujukan Yesus kepada para murid-Nya sebagaimana diungkapkan oleh Santo Lukas dalam Injil yang baru kita dengar.
Pertanyaan Yesus tadi, paliing kurang untuk kesempatan ini menghadirkan dua tanggapan. Pertama, membersitkan satu hal, krisis identitas Yesus, keraguan-Nya atas jati diri serta misi hidup-Nya. Yesus membutuhkan peneguhan dari para murid-Nya. Sesudah Petrus memberikan jawaban, “Engkaulah Mesias dari Allah”, sesudah Yesus memperoleh peneguhan itu, Dia lalu menegaskan bahwa Mesias harus menanggung banyak penderitaan. Kedua, (dan inilah yang menjadi pokok atau fokus dalam renungan kita), ialah pertanyaan Yesus itu sesunguhnya merupakan satu test bagi pemahaman dan penghayatan para murid tentang siapakah Yesus itu. Para murid harus menjawab pertanyaan tersebut bukan berdasarkan perkataan, atau tanggapan, atau pendapat orang lain, melainkan harus berlandaskan pemahaman dan penghayatan mereka sendiri.
Kalau dalam zaman sekarang, dapat dikatakan bahwa Yesus tidak membutuhkan suatu jawaban, misalnya berdasarkan pengetahuan akademik, buku, ajaran agama ataupun teologi; melainkan bersumber pada pemahaman dan penghayatan pribadi dalam integritasnya dengan seluruh pengalaman hidup seseorang dan bagaimana mengimplementasikan pemahaman dan penghayatan itu dalam kompleksitas hidup keseharian.
Adalah Petrus yang memberikan jawaban yang jitu dan tuntas. Jitu, karena tepat sasaran. Tuntas, karena menyentuh dan merangkul hakekat diri Yesus sebagai Mesias dari Allah yang harus menanggung banyak penderitaan demi keselamatan banyak orang. Jawaban itu atau pengakuan tersebut menjiwai seluruh sepak terjang perjalanan hidup Petrus, sekalipun pribadi Petrus penuh dengan kontradiksi. Seperti pada malam kelemahannya yang paling besar, dia menyangkal Gurunya. “Aku tidak tahu, apa yang engkau katakan. Aku tidak mengenal orang itu.” Begitu kata Petrus menjawab pertanyaan para penanyanya. Jawaban itu lahir dari rasa stres dan kebingungan, karena menurut pemikiran Petrus, Yesus tidak perlu menderita, Yesus tidak boleh menderita. Karena cintanya yang begitu besar kepada Yesus, dia tidak mau agar Yesus menderita.
Penyangkalan itu tidak menghancurkan cinta, kesetiaan dan imannya kepada sang Guru. Penyangkalan itu, malah melahirkan penyesalan dan penyesalan tersebut membuat Petrus lebih dalam mencintai Yesus, lebih setia menjadi rasul-Nya, utuh, kuat dan tergoyahkan imannya kepada Yesus. Semuanya itu Petrus buktikan dengan cara dia menjalani kematiannya: disalibkan dengan kepala ke bawah di Roma pada tanggal 29 Juni sekitar abad pertama. Dan apa yang terjadi pada Petrus, terjadi juga pada para rasul yang lain dalam sepak terjang mereka yang berbeda, namun bermura pada satu kesetiaan dan pengabdian, Yesus Kristus, Mesias dari Allah.
Tetapi, apa katamu, Siapakah Aku Ini? Banyak orang memberikan jawaban yang berbeda dan konsisten dengan jawabannya, bahkan sampai akhir hidup mereka. Pater Damian memberikan jawaban dengan teladan hidupnya yang konkrit. Ia hidup dan selalu berada bersama para penderita penyakit kusta di Molokai, sebuah pulau di gugusan kepulauan Hawai, dan mati di sana. Muder Teressa, yang mengabdikan seluruh hidup dan cintanya kepada mereka yang terhempas, tercampak, terlantar, terbuang, yang terbelenggu oleh kemiskinan, penyakit dan aneka penderitaan lahir bathin di Calcuta, India. Uskup Agung San Salvador, Mgr. Oscar Arnulfo Romero yang berani secara frontal menantang rezim militer yang berkuasa di El Savador, membela umatnya yang menderita penindasan dan kekerasan. Dan adalah tidak berlebihan bila kita sebut juga Mgr. Dom Carlos Filipe Ximenes Belo, mantan Uskup Dili, Timor Leste, yang berani keluar dari rumah “keong ketakutannya”, tidak terbungkuk-bungkuk di bawah rezim yang berkuasa dan mengumandangkan suara kenabiannya, membebaskan rakyat Timor Leste yang adalah umatnya sendiri, dari ketidakadilan, penindasan dan kekerasan. Dan masih ada banyak contoh yang lain tentunya.
Pertanyaan Yesus tersebut di atas ditujukan juga kepada kita pada hari ini. “Tetapi, apa katamu, Siapakah Aku ini?” Bagaimana jawaban kita?
Kita semua tentu tahu bagaimana persisnya buah jambu air. Bila kita memperhatikan dengan cermat, kita akan menyadari bahwa bentuknya bagus, warnanya hijau kekuning-kuningan, kulitnya halus, mulus dan licin serta putih bersih isinya. Namun .... dan ini yang penting, TAWAR RASANYA.
Semoga hati kita tidak tawar terhadap situasi dan kondisi di sekitar kita dalam mengimplementasikan jawaban kita terhadap pertanyaan Yesus tersebut di atas: Menurut Kamu, Siapakah Aku ini? Amin.

Jumat, 01 April 2011

sabda Tuhan

Bacaan: Zak 12: 10-11; Gal 3: 26-29; Luk 9: 18-24
Tetapi apa katamu, siapakah AKU ini? Itulah pertanyaan yang ditujukan Yesus kepada para murid-Nya sebagaimana diungkapkan oleh Santo Lukas dalam Injil yang baru kita dengar.
Pertanyaan Yesus tadi, paliing kurang untuk kesempatan ini menghadirkan dua tanggapan. Pertama, membersitkan satu hal, krisis identitas Yesus, keraguan-Nya atas jati diri serta misi hidup-Nya. Yesus membutuhkan peneguhan dari para murid-Nya. Sesudah Petrus memberikan jawaban, “Engkaulah Mesias dari Allah”, sesudah Yesus memperoleh peneguhan itu, Dia lalu menegaskan bahwa Mesias harus menanggung banyak penderitaan. Kedua, (dan inilah yang menjadi pokok atau fokus dalam renungan kita), ialah pertanyaan Yesus itu sesunguhnya merupakan satu test bagi pemahaman dan penghayatan para murid tentang siapakah Yesus itu. Para murid harus menjawab pertanyaan tersebut bukan berdasarkan perkataan, atau tanggapan, atau pendapat orang lain, melainkan harus berlandaskan pemahaman dan penghayatan mereka sendiri.
Kalau dalam zaman sekarang, dapat dikatakan bahwa Yesus tidak membutuhkan suatu jawaban, misalnya berdasarkan pengetahuan akademik, buku, ajaran agama ataupun teologi; melainkan bersumber pada pemahaman dan penghayatan pribadi dalam integritasnya dengan seluruh pengalaman hidup seseorang dan bagaimana mengimplementasikan pemahaman dan penghayatan itu dalam kompleksitas hidup keseharian.
Adalah Petrus yang memberikan jawaban yang jitu dan tuntas. Jitu, karena tepat sasaran. Tuntas, karena menyentuh dan merangkul hakekat diri Yesus sebagai Mesias dari Allah yang harus menanggung banyak penderitaan demi keselamatan banyak orang. Jawaban itu atau pengakuan tersebut menjiwai seluruh sepak terjang perjalanan hidup Petrus, sekalipun pribadi Petrus penuh dengan kontradiksi. Seperti pada malam kelemahannya yang paling besar, dia menyangkal Gurunya. “Aku tidak tahu, apa yang engkau katakan. Aku tidak mengenal orang itu.” Begitu kata Petrus menjawab pertanyaan para penanyanya. Jawaban itu lahir dari rasa stres dan kebingungan, karena menurut pemikiran Petrus, Yesus tidak perlu menderita, Yesus tidak boleh menderita. Karena cintanya yang begitu besar kepada Yesus, dia tidak mau agar Yesus menderita.
Penyangkalan itu tidak menghancurkan cinta, kesetiaan dan imannya kepada sang Guru. Penyangkalan itu, malah melahirkan penyesalan dan penyesalan tersebut membuat Petrus lebih dalam mencintai Yesus, lebih setia menjadi rasul-Nya, utuh, kuat dan tergoyahkan imannya kepada Yesus. Semuanya itu Petrus buktikan dengan cara dia menjalani kematiannya: disalibkan dengan kepala ke bawah di Roma pada tanggal 29 Juni sekitar abad pertama. Dan apa yang terjadi pada Petrus, terjadi juga pada para rasul yang lain dalam sepak terjang mereka yang berbeda, namun bermura pada satu kesetiaan dan pengabdian, Yesus Kristus, Mesias dari Allah.
Tetapi, apa katamu, Siapakah Aku Ini? Banyak orang memberikan jawaban yang berbeda dan konsisten dengan jawabannya, bahkan sampai akhir hidup mereka. Pater Damian memberikan jawaban dengan teladan hidupnya yang konkrit. Ia hidup dan selalu berada bersama para penderita penyakit kusta di Molokai, sebuah pulau di gugusan kepulauan Hawai, dan mati di sana. Muder Teressa, yang mengabdikan seluruh hidup dan cintanya kepada mereka yang terhempas, tercampak, terlantar, terbuang, yang terbelenggu oleh kemiskinan, penyakit dan aneka penderitaan lahir bathin di Calcuta, India. Uskup Agung San Salvador, Mgr. Oscar Arnulfo Romero yang berani secara frontal menantang rezim militer yang berkuasa di El Savador, membela umatnya yang menderita penindasan dan kekerasan. Dan adalah tidak berlebihan bila kita sebut juga Mgr. Dom Carlos Filipe Ximenes Belo, mantan Uskup Dili, Timor Leste, yang berani keluar dari rumah “keong ketakutannya”, tidak terbungkuk-bungkuk di bawah rezim yang berkuasa dan mengumandangkan suara kenabiannya, membebaskan rakyat Timor Leste yang adalah umatnya sendiri, dari ketidakadilan, penindasan dan kekerasan. Dan masih ada banyak contoh yang lain tentunya.
Pertanyaan Yesus tersebut di atas ditujukan juga kepada kita pada hari ini. “Tetapi, apa katamu, Siapakah Aku ini?” Bagaimana jawaban kita?
Kita semua tentu tahu bagaimana persisnya buah jambu air. Bila kita memperhatikan dengan cermat, kita akan menyadari bahwa bentuknya bagus, warnanya hijau kekuning-kuningan, kulitnya halus, mulus dan licin serta putih bersih isinya. Namun .... dan ini yang penting, TAWAR RASANYA.
Semoga hati kita tidak tawar terhadap situasi dan kondisi di sekitar kita dalam mengimplementasikan jawaban kita terhadap pertanyaan Yesus tersebut di atas: Menurut Kamu, Siapakah Aku ini? Amin.
Copyright @ 19 Juni 2010, by: P. P. Berkhmans Keytimu, SVD

Sabtu, 27 November 2010

gereja gantang sawangan magelang'

Gereja St. Fransiskus Xaverius Gantang Terletak di Desa Gantang,Kecamatang Sawangan, Magelang Jawa Tengah Dan ber Paroki di Gereja St. Kristoforus Banyu Temumpang Gereja gantang Terletak di Bukit Merbabu sehinga terkenal dengan sebutan Kapel Merbabu Terlihat secorak Bangunan Tua yang masih berdiri kokoh di sebelah bawah gereja  Awal mula sebuah gubuk berukuran 5 x 8 meter persegi tepat melintang di bawah desa di jadikan tempat untuk peribadahan, karena faktor jauhnya gereja Banyu Temumpang Karena waktu itu belum terlintas Alat transportasi harus melalui jalan kaki maka para sesepuh dulu mendirikan tempat peribadatan yang sangat sederhana. 50 Th yang lalu menjadi saksi bisu ketika awal mulanya gereja ini terbentuk th 1996 Gereja ini sempat di renovasi dan th 2003 Renovasi pelebaran dan pemeliharaan, Hinga sampai saat ini.
Gereja Fransiskus Xaverius memiliki Beberapa Lingkungan yang meliputi 5 Desa di sekitar

1.Lingkungan 1
2.Lingkungan 2
3.Lingkungan 3
4.Lingkungan 4
5.Lingkungan Gejayan
6.Lingkungan Gadung
7.Lingkungan Serut
8.Lingkungan Banyu Urip
  • Sekretariat:
  • Official Building Park, desa gantang
  • Jl. ketep pass sebelum pertigaan Tlatar belok kiri
  • Kelurahan Gantang,
  • Kecamatan Sawangan, KB Magelang
  • Phone.: 087771777056
  • Email: gerejagantang@yahoo.co.id


Selasa, 23 November 2010

karunia Rohkudus'

“Segala Karunia Roh Kudus akan berlangsung di tengah-tengah sidang jemaat pada akhir zaman ini. “Gereja Tuhan Hujan Akhir” akan menelurkan mujizat-mujizat yang besar dibandingkan Gereja Tuhan Hujan Awal/mula-mula. Anak-anak Tuhan akan memiliki tanda-tanda kuasa yang lebih besar, serta akan melakukan mujizat-mujizat yang hebat, seperti yang tertera dalam Kitab Para Rasul. Kita telah menyaksikan banyak peristiwa kesembuhan ajaib, tetapi kita berlagak seperti kita belum pernah menyaksikan peristiwa yang mengagumkan itu sebelumnya. Akan semakin bertambah banyak mujizat yang terjadi pada zaman akhir ini yang sudah di ambang pintu (menjelang kedatangan Tuhan). Karena itulah sekarang tiba waktunya untuk berlangsungnya mujizat-mujizat yang akan menonjol di tengah-tengah kehidupan manusia. Kita sekarang sudah memasuki zaman penuh keajaiban !!!

Banyak umat-Ku tidak bersedia menerima gerakan RohKu, dan mereka itu akan berpaling, sehingga mereka tidak siap menyambut kedatangan-Ku pada waktu Aku kembali. Banyak di antara mereka itu akan tertipu oleh nabi-nabi palsu dan tanda-tanda heran yang diciptakan oleh iblis. Akan tetapi hendaklah kamu tetap mengiring Aku dan janganlah membiarkan dirimu hanyut tertipu. Aku sedang mengumpulkan umat-Ku menjadi satu dan sedang mempersiapkan mereka, karena waktu yang tersisa sudah sangat singkat.”

Selasa, 19 Oktober 2010

mujijat akan selalu datang

Tuha yesus ku didalam tangan mu engkau punya kekuasaan yang amat dasyat''tiada seorang 1 pun yang mengalah kan kekuasan itu kuasa mu sangat agung dan mulia kaulah sejuta harapan bagi kami tuk membuka jalan kebenaran dan dalam terang ilahi''

Rabu, 06 Oktober 2010

Minggu, 03 Oktober 2010

YESUS TELADAN BAGI UMAT MANUSIA

Oleh karena Tuhan adalah kasih dan karena kita diperintahkan untuk menjadi seperti Dia (ingatlah Efesus berkata untuk menjadi peniru Tuhan), penting untuk mengetahui apakah kasih itu. Jika saya adalah Iblis dan mengadakan rapat komite untuk mencari tahu bagaimana mengacaukan isu yang berhubungan dengan Tuhan, teologi dan hidup, maka salah satu dari hal-hal tersebut yang hendak saya kacaukan adalah apakah kasih itu. Saudara-saudara, itulah yang terjadi dalam dunia kita sekarang. Saya katakan bahwa sangat banyak orang di muka bumi ini yang tidak tahu apakah kasih Tuhan itu. Apa yang hendak kita upayakan dalam naskah ini adalah melihat kepada Alkitab dan berharap kita dapat lebih mengerti tentang apakah kasih Tuhan itu dan apakah perintah yang harus kita lakukan ketika Tuhan berkata agar kita mengasihi Dia dan sesama. Apa yang sudah dilakukan Iblis adalah dia sudah mengacaukan isu ini agar kata kasih tidak dimengerti dengan baik.

Dalam bahasa Yunani paling tidak terdapat empat kata yang dapat diterjemahkan sebagai kasih. Kita akan melihat kepada masing-masing kata, sedikit demi sedikit. Empat kata Yunani itu adalah agape [bentuk kata benda], agapao [bentuk kata kerja], phileos [bentuk kata benda], phileo [bentuk kata kerja], eros – saya rasa kata ini tidak asing bagi kita. Kita mendapatkan kata erotis dari kata eros ini, dan storge mungkin baru bagi Anda. Keempat kata itu adalah : agape, phileo, eros dan storge. Nah, semuanya diterjemahkan dengan kata kasih, dan saya rasa bahwa Anda sudah dapat melihat masalahnya – yaitu ketika saya berkata kepada seseorang bahwa saya mengasihi atau ketika saya mengharapkan kasih dari seseorang, apakah sesungguhnya yang saya inginkan? Dalam bahasa Yunani, kata-kata tersebut melakukan pekerjaan yang lebih baik dalam menjelaskan ini agar orang dapat mengerti apa yang dikatakan. Apa yang perlu kita perbuat sekarang adalah kita perlu “membuka,” jika Anda bersedia. Bayangkan sebuah koper dengan empat potong pakaian yang berbeda di dalam koper itu dan kadang-kadang seluruh isi koper disebut satu benda. Apa yang perlu kita lakukan adalah membuka definisi kasih agar kita dapat memahaminya dan memakainya seperti yang dipergunakan oleh Tuhan. Nah, untuk melakukan itu dan khususnya secara alkitabiah, kita perlu mengerti keempat kata Yunani itu, jadi mari kita melihat kepada keempat kata tersebut.

Pertama, kita mempunyai kata agape. Kasih agape adalah kasih yang berkaitan dengan ketaatan, dan ini diungkapkan dalam memberi. Kasih agape dinyatakan oleh tindakan dan bukan perasaan. Kita akan meluangkan lebih banyak waktu pada kata agape, jadi kita akan kembali lagi dan membahasnya.

Kasih phileo adalah kasih di antara teman. Mungkin Anda sering mendengar tentang kota di Amerika Philadelphia, yang berasal dari kata phileos = kasih dan adelphoes = saudara; jadi Philadelphia, menurut mereka adalah kota yang memiliki kasih persaudaraan. Phileo adalah kasih di antara teman. Kasih phileo melibatkan perasaan, dan oleh karena itu, kasih phileo dapat benar-benar menjadi lebih pribadi dari pada kasih agape. Anda sungguh perlu membungkus pikiran anda di sekitar itu dan menangkap artinya. Dengan agape, saya dapat mengasihi seseorang melalui melakukan sesuatu bagi mereka ketika saya tidak mempunyai perasaan sama sekali untuk mereka, tetapi dengan kasih phileo, ini melibatkan perasaan. Dalam hal ini, kasih phileo dapat lebih pribadi dari pada kasih agape. Misalnya, anda dapat mengasihi musuh anda dengan kasih agape, tetapi anda tidak dapat mengasihi musuh anda dengan kasih phileo. Selanjutnya ada kata eros. Saya rasa sebagian besar dari kita tidak asing dengan kata eros dan kasih erotis. Ini adalah ketertarikan seksual yang kuat yang dirasakan seseorang terhadap orang lain.

Kasih yang mungkin masih asing bagi kita tetapi diungkapkan oleh kata Yunani dengan sangat baik adalah storge. Kasih storge adalah kasih kerabat. Ini adalah kasih di antara anggota keluarga dan secara khusus kasih di antara orang tua dan anak-anak. Orang Yunani sadar bahwa ketertarikan yang kuat hadir secara khusus antara orang tua dan anak-anak atau orang tua dan bayi. Ketertarikan yang sangat kuat ini tidak benar-benar cocok dengan agape, phileo, atau eros. Ini adalah kasih keluarga. Saya rasa kita melihat sedikit kasih itu ketika anda melihat reaksi sebagian besar wanita ketika mereka melihat seorang bayi. Mereka memiliki perasaan yang hangat, dan mereka akan bersikap seperti ini, ”Oh,” ketika mereka melihat bayi itu. Dari manakah perasaan itu berasal? Itu adalah storge, kasih keluarga, kasih yang diletakkan Tuhan dalam hati seseorang untuk anaknya atau di dalam hati seorang wanita untuk anaknya atau di dalam hati anak-anak untuk orang tua mereka. Itu adalah kasih storge. Ini adalah bagian dari rancangan Tuhan bagi kita. Ketika Tuhan berkata bahwa Dia adalah Bapa bagi kita dan Dia mengasihi kita, itulah kasih storge, dan ini adalah gambaran besar dari kasih itu.

Kita perlu kembali lagi sekarang dan melihat kepada keempat kata kasih, tetapi kita akan berfokus secara khusus pada kata agape dan phileo. Alasan untuk ini adalah karena kedua kata tersebut muncul dalam Alkitab. Eros dan storge tidak muncul dalam Alkitab, tetapi keduanya adalah bagian dari paket kasih yang tampak, jadi kita perlu mengetahui tentang semua kasih itu; akan tetapi, di dalam Alkitab sendiri, kita melihat kepada agape dan phileo.

Seperti yang sudah saya katakan sebelumnya, agape berhubungan dengan ketaatan, dan itu diungkapkan dalam memberi. Ini adalah kunci yang sangat besar untuk mengenali kasih agape. Bagaimanakah kita mengenali kasih agape? Kita mencari kata memberi. Mari kita lihat pada Yohanes 3:16. Nah, ini adalah sangat tepat untuk melihat Yohanes 3:16 dalam musim sepak bola karena jika anda adalah penggemar sepak bola, maka anda tidak dapat menyaksikan banyak pertandingan sebelum anda melihat sebuah kertas atau tanda yang tergantung di pagar beberapa stadion dengan tulisan Yohanes 3:16. Apakah yang hendak disampaikan oleh orang yang memegang tanda itu?

Yohanes 3:16
Karena begitu besar kasih [agape] Tuhan akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan [kunci utama di sini] Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.

Kasih agape diungkapkan dengan memberi. Mari saya tunjukkan kepada anda sekali lagi dari sudut pandang Kristus.

Efesus 5:1 dan 2
(1)
Sebab itu jadilah penurut-penurut Tuhan, seperti anak-anak yang kekasih
(2) dan hiduplah di dalam kasih, sebagaimana Kristus Yesus juga telah mengasihi kamu dan telah menyerahkan diri-Nya untuk kita sebagai persembahan dan korban yang harum bagi Tuhan.

Amin, Tuhan sangat mengasihi sehingga Dia memberi; Kristus sangat mengasihi sehingga Dia memberi. Ini sangat penting, dan perlu dimengerti agar kita memahami tentang kasih dalam budaya kita karena apakah yang biasa kita dengar di jalanan? Mungkin Anda mendengar saya berkata, ”Saya menyukai (mengasihi) kue Oreo.” Mungkin Anda mendengar saya berkata demikian, tetapi sebenarnya adalah saya tidak mengasihi kue Oreo dengan kasih Tuhan. Saya tidak memberikan apa-apa kepada Oreo! Apa yang terjadi antara kue Oreo dan saya adalah saya memakannya! Saya suka rasanya. Saya menaruhnya di dalam mulut saya, dan saya menikmati rasanya. Saya tidak memberikan apa-apa kepada kue Oreo. Bahkan kue itu tidak mendapat tempat khusus dalam lemari dapur saya. Saya tidak memberikan apa-apa; saya mengambil manfaat dari kue itu. Jika seseorang berkata, ”Saya menyukai (mengasihi) es krim.” Mereka tidak memberikan apa-apa kepada es krim itu. Ketika seseorang berkata, “Saya menyukai (mengasihi) pantai”, mereka tidak mencintai pantai; mereka menyukai pantai. Mereka tidak melakukan apa-apa untuk pantai. Apa yang mereka lakukan adalah mereka akan pergi ke pantai dan mereka akan bersenang-senang. Mereka menyukai apa yang dirasakan mereka. Mereka menyukainya. Karena mereka sangat menyukainya, apa yang terjadi di dalam budaya kita adalah kita berkata, “Kami mengasihi (menyukai) pantai.” Masalahnya adalah kita dibesarkan dalam suatu budaya di mana sejak seorang anak baru saja mulai mengerti berkomunikasi, apakah yang mereka dengar? Saya mengasihi es krim. Saya mengasihi pantai. Saya mengasihi kue Oreo—perkataan seperti itu. Apa yang terjadi di sini adalah kata suka dan kata kasih dikacaukan, dan konsep tentang apakah kasih Tuhan itu membingungkan. Ketika kasih agape yang sebenarnya diungkapkan, memberi terlibat di dalamnya – memberi diri anda sendiri.

Nah, mari kita melihat bagaimana hal ini diterjemahkan dalam budaya kita. Anda mendapatkan seorang pria berkencan dengan seorang gadis atau seorang gadis dengan seorang pria, dan pria itu berkata, “Saya mengasihimu.” Bagaimanakah dia memakai kata kasih? Saya dapat berkata kepada anda bagaimana dia memakai kata kasih. Mungkin dia memakai kata kasih sama sepereti dia memakainya ketika dia berkata, “Saya mengasihi es krim,” dan “saya mengasihi pantai.” Dia memandang gadis itu dan berkata, “Saya mengasihimu,” dan apa yang dimaksudkannya adalah, “Saya sungguh suka cara engkau menimbulkan perasaan saya.” Itulah sebabnya, ketika keadaan berjalan salah dalam hubungan dan anda tidak memperoleh perasaan yang baik dari hubungan itu lagi, maka pernyataan anda adalah, “Saya tidak mengasihi dia lagi.” Ini diterjemahkan sebagai, “Saya tidak menyukai dia lagi. Dia tidak membuat saya merasa baik.”

Ini penting sekali bagi kita untuk mengerti bahwa kasih Tuhan selalu diungkapkan dengan memberi. Apakah yang anda berikan? Apakah yang anda berikan di dalam hubungan, kepada dunia, kepada orang lain, kepada Tuhan? Apakah yang anda berikan? Apakah yang anda serahkan? Di lain pihak, menyukai adalah apa yang anda ambil. Apakah yang datang kepada anda? Sebuah perbedaan dalam arah muncul antara kasih dan suka. Dalam kasih kepada Tuhan, arahnya adalah keluar dari anda. Dalam suka, arahnya ke dalam anda. Ini luar biasa penting karena kasih Tuhan diekspresikan dalam tindakan bukan dalam perasaan. Mari lihat Khotbah di Bukit. Yesus Kristus mengumpulkan orang-orang, dan Dia berbicara kepada mereka.

Matius 5:43
Kamu telah mendengar firman: Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu.

Tunggu dulu! Siapakah yang akan berkata demikian? Siapakah yang akan berkata mengasihi sesama dan membenci musuhnya? Sebenarnya, para pemimpin agama yang akan berkata demikian. Kita dapat mencatat bahwa pemimpin-pemimpin agama pada masa Kristus mengatakan itu tetapi itu bukan doktrin alkitabiah. Banyak orang berpikir bahwa apa yang dinyatakan di sini adalah perubahan antara Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, dan Perjanjian Lama berkata, ”Kasihilah sesamamu dan bencilah musuhmu,” tetapi sekarang Kristus akan mengubah itu. Itu tidaklah demikian—amin! Perjanjian Lama juga berkata kasihilah musuhmu, yang akan kita lihat sebentar lagi. Di sini Kristus berkata:

Matius 5:43 dan 44
(43)
Kamu telah mendengar firman: Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu.
(44) Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.

Kata kasih di sini adalah agape. Pertanyaannya adalah, ”Bagaimana saya dapat melakukan itu? Saya tidak suka orang itu. Mereka sudah melukai perasaan saya. Mereka sudah menyakiti saya; mereka telah menyakiti keluarga saya.” Mungkin mereka sudah melakukan banyak hal lain juga, dan anda berkata, “Saya tidak suka orang itu; sebenarnya saya memiliki rasa tidak suka yang makin meningkat terhadap orang itu. Bagaimana Engkau dapat memerintahkan saya untuk mengasihi orang itu?” Hei, itu adalah pertanyaan yang luar biasa. Pertanyaan itu layak menerima jawaban yang luar biasa. Kuncinya ada di dalam kata kasih. Ingat, kita harus membuka kata kasih, dan kita mempunyai empat pilihan: agape, phileo, eros dan storge. Kata Yunani di sini adalah agape. Ingatlah, kasih agape adalah ekspresi dari memberi; jadi bagaimana anda mengasihi musuh anda? Anda tidak mengasihi musuh anda melalui melewati semua jenis latihan mental yang tidak masuk di akal dan berusaha menebak bagaimana anda akan menyukai dia. Bukan demikianlah cara anda mengasihi musuh anda. Cara anda mengasihi musuh anda adalah bertindak terhadap musuh anda seperti Tuhan akan bertindak terhadap musuh anda. Berilah kepada mereka; tolonglah mereka; berdoa untuk mereka. Mari kita lihat pada konteksnya, dan itu akan membuat anda mengerti.

Matius 5:44
Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. Ini adalah mengasihi musuh anda. Beberapa orang berkata kepada saya, “John, saya bahkan tidak merasa mau berdoa untuk dia, tetapi saya lakukan saja.” Puji Tuhan, anda mengasihi musuh anda.

Matius 5:44 dan 45
(44) Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.
(45) Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, ...

Dan kemudian Kristus memberikan contoh tentang apa yang dilakukan Tuhan.

Matius 5:45
Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar

Dia memberikan kesempatan kepada mereka. Dia memenuhi kebutuhan mereka. Nah, ketika Kristus berkata tentang mengasihi musuh, apakah Dia mempunyai contoh dalam Perjanjian Lama yang dapat dipergunakan untuk mempertegas pengajaran-Nya? Jawabannya adalah, ya. Mari lihat kepada Keluaran 23:5. Ini adalah Hukum Musa. Hukum Musa untuk memimpin bangsa Israel. Kata Taurat adalah instruksi. Saya tahu kadang-kadang kita berkata bahwa Taurat itu adalah hukum, tetapi secara teknis, kata Taurat berarti instruksi. Kata lain dapat ditemukan seperti Mitzvah yang berarti hukum, tetapi Taurat berarti instruksi. Dalam Perjanjian Lama, dalam kelima Kitab Musa, kita memiliki instruksi tentang bagaimana menjalani hidup dan bagaimana hidup rukun dengan orang lain.

Keluaran 23:4
Apabila engkau melihat lembu musuhmu atau keledainya yang sesat, maka segeralah kau kembalikan binatang itu.

Nah, bayangkan sekarang bagaimana hal ini bertentangan dengan perasaan alami anda. Anda mempunyai musuh, dan katakanlah di dalam budaya Perjanjian Lama mereka tinggal beberapa mil jauhnya. Suatu hari anda keluar untuk bertani, dan anda melihat lembu yang menyeberangi ladang anda dan lereng bukit. Anda mengenali lembu itu, dan anda berkata, ”Saya tahu, itu adalah lembu Bill.” Anda tidak suka dengan Bill, dan anda berpikir, ”Ini luar biasa! Bill akan menghabiskan beberapa tahun untuk menemukan lembu itu. Sebenarnya, saya akan pergi ke sana dan memukul belakangnya agar membuat dia berlari semakin cepat dan mengeluarkan dia dari sana! Ha ha, ini hari yang luar biasa!!”

Tidak, itu bukan seperti yang dikatakan Alkitab. Alkitab berkata, anda mau mengasihi musuh anda; inilah yang harus anda perbuat. Anda pergi mendapatkan lembu ini, dan anda mengembalikannya ke Bill. Anda berkata, ”Tetapi Tuhan, saya sedang bertani di sini. Saya sedang membajak. Saya sedang memanfaatkan udara cerah. Saya tidak punya waktu untuk menarik lembu itu dan membawanya kembali ke tempat Bill dan meninggalkannya di sana. Bagaimana pun juga saya tidak suka dengan orang itu ketika dia memperlakukan saya seperti kotoran!” Tuhan berkata, ”Engkau tahu, jika engkau melihat lembu atau keledai musuhmu tersesat, engkau pergi dan membawanya kembali kepada musuhmu.” Itulah kasih.

Jika dikenakan untuk masa sekarang mungkin sama halnya ketika anda sedang berkendara di jalan, dan anda melihat seseorang yang sudah memberikan banyak luka dan masalah, dan anda memandang orang itu sebagai musuh anda, dan anda melihat dia berada di tepi jalan sedang bergumul dengan ban kempis. Anda tidak melewati dia dengan kecepatan 55 mil perjam sambil tertawa di jendela, ”Ha ha ha!” Tidak, anda tidak melakukan itu. Anda akan menepi, dan melihat apakah anda dapat menolong.

Apakah itu berarti anda merasa senang melakukan itu? Tidak. Saudara-saudara, itulah kunci kepada kasih alkitabiah. Anda tidak perlu merasa senang melakukannya. Ini selalu menyenangkan jika anda dapat merasa senang melakukan itu, tetapi anda tidak perlu merasa senang berbuat itu. Apa yang anda perbuat adalah taat.

Keluaran 23:5
Apabila engkau melihat rebah keledai musuhmu karena berat bebannya, maka janganlah engkau enggan menolongnya. Haruslah engkau rela menolong dia dengan membongkar muatan keledainya.

Wow, bukankah itu memberikan gambaran yang jelas tentang bagaimana mengasihi orang lain? Bagaimana kita mengasihi musuh kita? Kita menolong dia di dalam cara ilahi. Kita berdoa bagi mereka. Kita tidak perlu melakukan serangkaian latihan mental untuk menjadikan mereka seperti seorang sahabat, tetapi jika anda hendak mentaati Tuhan, anda harus membuat matahari anda bersinar di atas mereka sama seperti Tuhan membuat matahari-Nya bersinar di atas mereka yang adalah musuh-Nya. Tentu saja kita berbuat demikian!

Di dalam mempelajari lebih dalam tentang kasih, mari kita melihat 1 Korintus. Saya rasa mungkin kita sekalian tahu bahwa ini adalah pasal yang luar biasa di dalam Alkitab yang berbicara tentang kasih, dan pasal ini mengatakan kepada kita banyak hal tentang kasih.

1 Korintus 13:1
Sekalipun aku dapat berkata-kata dengan semua bahasa manusia dan bahasa malaikat, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama dengan gong yang berkumandang dan canang yang gemerincing.

Itulah kasih agape. Apakah artinya itu? Itu berarti bahwa jika saya berbicara dalam bahasa manusia dan malaikat, tetapi saya sungguh-sungguh tidak taat kepada Tuhan, saya benar-benar tidak melakukan apa yang dikatakan Tuhan. Saya hanya berbuat hal-hal yang membuat saya bahagia, lalu saya sungguh kosong.

1 Korintus 13:2
Sekalipun aku mempunyai karunia untuk bernubuat dan aku mengetahui segala rahasia [rahasia kudus] dan memiliki seluruh pengetahuan; dan sekalipun aku memiliki iman yang sempurna untuk memindahkan gunung, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih [agape], aku sama sekali tidak berguna.

Apakah yang terjadi di sini? Jika saya tidak benar-benar mentaati Tuhan, jika hati saya tidak sungguh-sungguh mentaati Tuhan, maka sesungguhnya apakah tujuan dari semua tindakan pelayanan saya? Pelayanan saya hanyalah menyenangkan manusia, atau itu untuk memperbesar kekayaan diri sendiri. Pelayanan itu hanya untuk membangun saya, tetapi itu tidak dilakukan karena saya sungguh mengasihi Tuhan atau saya ingin mentaati Tuhan. Pelayanan itu dilakukan untuk beberapa alasan agar membuat saya kelihatan luar biasa atau sesuatu yang mirip seperti itu.

Lihatlah ayat empat. Perhatikanlah bagaimana kasih di sini diekspresikan dalam tindakan. Ingatlah, gambaran mental bahwa kasih adalah memberi; kasih adalah sesuatu yang keluar dari anda. Apa yang masuk ke dalam anda adalah apa yang anda sukai, tetapi apa yang keluar dari anda itulah di mana kasih agape berdiam.

1 Korintus 13:4
Kasih itu sabar;

Baiklah, marilah kita melihat kasih itu. Saya dapat memperhatikan kalimat itu karena saya bukanlah orang yang paling sabar di dunia. Saya mengerti bahwa saya harus lebih banyak memberi di dalam kesabaran. Saya berkata kepada anda, saya berada di dalam antrian di toko kebutuhan sehari-hari, dan orang-orang hanya mengobrol dan tidak memeriksa belanjaan mereka dan saya sungguh merasa tertantang. Tetapi saya tahu bahwa kasih adalah sabar dan jika saya akan memberi diri saya dari pada mengambilnya, maka saya akan melakukan lebih baik.

1 Korintus 13:4
Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong.

Kasih mengucapkan hal-hal yang baik tentang orang lain. Kasih tidak sombong. Kasih tidak kasar, bagaimana pun juga, anda sulit memberi jika anda kasar.

1 Korintus 13:5
Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain.

Apakah maksud menyimpan kesalahan? Beberapa orang memiliki mental buku besar yang mencatat setiap kali orang berbuat salah kepada mereka. Bagaimana hal ini memberi kepada orang lain? Tindakan itu hanya mengambil agar anda mempunyai lebih banyak amunisi untuk dipakai pada waktu anda berada dalam peperangan. Kita harus melepaskannya karena kasih tidak menyimpan kesalahan. Tuhan adalah menara kita yang tinggi, perisai kita dan pertahanan kita.

1 Korintus 13:6 dan 7
(6)
Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran.
(7) Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu.

Apakah anda melihat tindakan memberi di sini? Apakah anda melihat bagaimana ini menunjukkan bahwa memberi adalah tindakan keluar?

1 Yohanes 4:20
Jikalau seorang berkata: "Aku mengasihi Tuhan," dan ia membenci saudaranya, maka ia adalah pendusta.

Dapatkah kita berkata lebih jelas dari itu? Saya katakan, itu cukup jelas! Apakah artinya jika anda berkata, “Saya mengasihi Tuhan,” namun anda membenci saudara anda maka anda adalah seorang pendusta? Apakah artinya itu? Pertama-tama, apakah artinya membenci saudara anda? Membenci saudara anda berarti memperlakukan dia dengan buruk. Anda tahu, secara alkitabiah, benci adalah sama seperti kasih. Benci mengekspresikan dirinya sendiri. Benci mengekspresikan dirinya di dalam dunia jasmani. Jika anda membenci saudara anda, maka anda melakukan hal-hal secara agresif untuk membuat hidupnya menderita. Tentu saja, anda bekerja untuk merendahkan. Anda menyebarkan gosip. Anda mengirim pesan-pesan yang tidak menyenangkan. Anda mengacaukan hidupnya dalam hal ini atau dengan cara lain. Alkitab berkata, “Jika kamu berkata bahwa kamu mengasihi Tuhan, tetapi kamu melakukan hal itu kepada saudaramu, maka dalam hal mengasihi Tuhan – kamu adalah pendusta.”

Tuhan memerintahkan kita untuk mengasihi [agape] musuh kita. Itu berarti bahwa kita memberi kepada musuh kita. Kasih adalah memberi. Kasih adalah tindakan keluar. Bukan saja kita mengasihi musuh kita, tetapi kita mengasihi mereka yang ada di sekitar kita. Jika anda terlibat dalam sebuah hubungan, seorang gadis terlibat dalam hubungan dengan seorang pira atau seorang pria dalam hubungan dengan seorang gadis, dan anda bertanya pada diri anda sendiri, apakah dia mengasihi saya, maka yang harus anda perbuat adalah bertanya, ”Apakah yang saya berikan?” Jika dalam hubungan yang dia katakan bahwa dia mengasihi saya, tetapi semua yang dilakukannya adalah mengambil, mengambil, mengambil, mengambil, mengambil, maka apa yang dikatakannya bahwa saya mengasihi kamu sama seperti dia berkata, ”Saya mengasihi pantai.” Dia hanya sungguh-sungguh menyukai Anda dan hanya ingin mengambil dari Anda. Sama halnya juga, jika seorang pria bersama seorang gadis dan gadis itu berkata, ”Saya mengasihi kamu,” tetapi semua yang dilakukannya hanyalah mengambil, mengambil, mengambil, mengambil, mengambil, maka itu tidak berbeda juga.

Anda lihat, ini cukup mudah untuk menilai dengan segera begitu kita mengetahui apakah kasih itu. Ketika Tuhan berkata bahwa Dia mengasihi anda, sebaiknya anda percaya bahwa Dia memberikan segala hal. Marilah kita mulai dengan Dia memberikan Anak-Nya. Dia memberikan kepenuhan roh kepada anda. Dia memberdayakan manifestasi kapan saja anda ingin berbicara dalam bahasa roh. Dia terus menerus mencurahkan pewahyuan.

Berdasarkan informasi ini (agape adalah kasih yang memberi), mari kita melihat apakah kita dapat memilah beberapa hal dari Alkitab. Kristus berkata:

Yohanes 14:15
"Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku.

Tentu itu masuk di akal; tentu saja, inilah Yesus, dan Dia berkata agar anda melakukan sesuatu. Anda menjawab, ”Baiklah, saya mengasihi Engkau Yesus, tetapi saya tidak melakukan itu.” Bagaimana itu menunjukkan kasih? Bagaimana dengan memberi diri anda sendiri – tahu bahwa Yesus adalah Anak Allah, dan Dia tidak pernah menginginkan kecelakaan terhadap anda dan selalu merancangkan yang terbaik bagi anda? Anda dapat melihat bahwa Tuhan selalu memiliki niat yang terbaik bagi anda. Bagaimana anda mengasihi Tuhan? Anda mengasihi Tuhan melalui ketaatan. Anda memberikan diri anda dan mentaati Tuhan. Bagaimana jika saya tidak mau? Tidak apa-apa. Mungkin anda tidak merasa mau ke sisi jalan dan menolong musuh anda mengganti ban kempis. Orang yang di dalam Perjanjian Lama tidak mau mengembalikan lembu Bill. Kasih kepada Tuhan tidak selalu berarti bahwa anda ingin melakukan apa yang Tuhan kehendaki anda perbuat.

Sebagai orang tua kita juga mengerti tentang ini. Ketika anak-anak saya masih kecil, saya teringat ketika salah satu anak saya, Sierra, sedang mengalami pergantian gigi dan saya pikir bahwa saya tidak bisa tidur lagi sepanjang sisa hidup saya. Dia terus menerus menangis sepanjang malam selama berminggu-minggu. Kami, sebagai orang tua, tidak bisa tidur dan mendampingi dia, menggendong dia mondar-mandir sambil menghibur dia. Apakah saya benar-benar merasa suka melakukan ini? Tidak, saya harus bekerja keesokan harinya! Saya benar-benar menyeret diri saya untuk melakukan itu selama beberapa minggu. Apakah anda tahu? Itulah kasih! Ketika saya melihat ibu-ibu yang mengembangkan diri mereka demi anak-anak mereka, terutama ibu-ibu yang memiliki bayi yang mengalami sakit perut secara tiba-tiba (colic) atau sesuatu seperti itu, anda dapat melihat kasih dalam hidup mereka. Apakah mereka merasa suka tetap terjaga dan tidak tidur; apakah mereka merasa suka melakukan itu? Tidak, mereka tidak selalu merasa seperti itu.

Kasih ada di situ yang diekspresikan dengan memberi. Kita mengekspresikan kasih kita kepada Tuhan melalui melakukan perintah-Nya. Dalam ayat 21, disinggung hal yang sama.

.

Selamat Datang Dan Berkah Dalem Gereja Fransiskus Xaverius Gantang Sawangan Magelang http//:gerejagantangsawanganmagelang blokspot.com