20.59

Terbentuknya Paguyuban Kaulo mudo Rantau Desa Gantang Sawangan Magelang Tgl.9 Maret 2014
Paguyuban rantau adalah suatu komunitas anak rantau Desa Gantang yang pertama di selengarakan di Bekasi Timur, terdir 15 Anggota.
Paguyuban di bentuk untuk saling mendekatkan dan mengeratkan tali persaudaraan karena faktor masing-masing individual yang menyebar atau merantau di beberapa kota, menjaga keharmonisan bersama agar tidak hilang begitu saja. Pengalangan Dana sebagai Khas/Arisan untuk kepentingan secara bersama menyaring ide-ide kreaktif , dengan saling berdiskusi satu sama lain.

Semoga hubungan ini tetap terjalin dan tetap axis dalam pertemuannya, sehinga kita semakin dekat dan lebih terbantu dan terdorong dalam support pekerjaan, maupun kekrasanan dalam perantauan.
makin sukses terus dalam karir dan segala hal..
https://www.facebook.com/gerejafransiskus.gantang

Sandjaja
(dibaca: Sanjoyo) dilahirkan di desa Sedan, Muntilan, Provinsi Jawa
Tengah, Indonesia, pada tanggal 20 Mei 1914. Ayahnya bernama Willem
Kromosendjojo, bekerja sebagai pembantu perawat di sebuah klinik Katolik
yang dipimpin oleh misionaris Yesuit di Muntilan. Ibunya bernama
Richarda Kasijah, dari keluarga katolik. Sandjaja mempunyai dua kakak
perempuan dan seorang kakak laki-laki. Salah satu dari kakak perempuannya menjadi suster Fransiskan.
Sejak masa kanak-kanak Sandjaja sangat terkenal disekolahnya karena
kepandaiannya. Dia masuk di SD Katholik yang dipimpin oleh para Bruder.
Karena kecerdasannya, maka ia dikenal lebih suka belajar daripada
bermain dalam hari-hari senggangnya. Sandjaja seorang yang
berkepribadian sederhana, rendah hati, jujur dan terbuka terhadap satu
sama lain. Sandjaja sangat suka memperhatikan hidup doanya, rajin
mengikuti misa harian di gereja, dan sering mengunjungi gua Maria di
Desa Sendangsono, untuk berdoa dan berefleksi. Ketertarikannya untuk
menjadi imam berkembang ketika ia masih di SD.
Sandjaja
diterima di seminari setelah dia lulus dari SMA. Ia hidup dalam kesucian
yang luar biasa selama di seminari. Sandjaja ditahbiskan sebagai imam
diosesan pada tanggal 13 Januari 1943 di Muntilan. Setelah
pentahbisannya, ia terpilih sebagai pastor paroki di Muntilan. Sandjaja
mendapat banyak kesulitan karena situasi perang, namun demikian ia
sangat kuat dan percaya akan penyelenggaraan Ilahi, dan dengan alasan
itulah beliau dapat menjalankan tugas-tugasnya dengan baik sebagai
pastor paroki yang sangat bijaksana dan disukai oleh seluruh umat paroki
Muntilan. Untuk beberapa kali bangunan Gereja dirusak oleh tentara
perang yang tidak senang dengan karya missi. Walau begitu, ia tetap
tabah dan disemangati oleh umat parokinya untuk memperbaiki dan
membangun kembali gereja mereka. Bagi umat parokinya, Sandjaja selalu
menunjukan kesederhanaannya, bijaksana dan memperhatikan sesama dalam
seluruh hidupnya sebagai seorang pastor paroki. Meskipun banyak
kesulitan, ia dapat menjaga hubungan baik dengan pemerintah resmi
(penjajah Belanda).
Selama penjajahan Jepang tahun 1942 - 1945,
banyak gereja yang dirusak dan kekayaan mereka dirampas. Dalam situasi
seperti itu, Sandjaja harus melarikan diri dan bersembunyi di desa-desa
untuk keselamatan sampai keadaan membaik. Selanjutnya, ia dapat kembali
ke parokinya untuk membangun kembali gerejanya. Kemudian, ia mendapat
tugas baru untuk mengajar di Seminari Tinggi di Yogyakarta, dan untuk
membantu paroki tetangga di Magelang. Pada tahun 1948 terpilih sebagai
guru dan Rektor di Seminari Menengah di Muntilan. Sandjaja selalu
menunjukkan sikap kesediaannya untuk membantu Gereja dimanapun dan
bagaimanapun kondisinya, dan ia melakukannya dengan baik.
Kondisi
revolusi kemerdekaan Indonesia membuat rakyat Indonesia selalu waspada
dengan segala bentuk hubungan dengan pemerintah Belanda. Kedekatan Romo
Sandjaja (yang sebetulnya seorang pribumi) dengan pemerintah Belanda
menjadikan ketidaksukaan para pejuang kepadanya, sehingga beberapa
perilaku kejam tentara kolonial Belanda dalam membungkam para pejuang
serta keluarganya diduga oleh para pejuang ada hubungannya dengan Romo
Sandjaja. Pada tanggal 20 Desember 1948, ia menyelamatkan hidup teman
imamnya dan seminaris dalam Seminarinya dengan menyerahkan dirinya
kepada kelompok pemberontak pemerintah Belanda yang tidak menyukai sikap
Romo Sandjaja. Pemuda Kauman Muntilan merusak sebagian dari komplek
persekolahan di Muntilan. Delapan pemuda itu menculik imam dan frater.
Dia adalah Romo Sandjaja, Pr dan Frater Herman A. Bouwens, SJ.
Bersama seorang seminaris Yesuit dari Belanda itu mereka diinterogasi,
lalu dibunuh di lapangan terbuka di daerah pinggiran Muntilan.
Jenazahnya bergelimpangan di sawah antara desa Kembaran dan Patosan.
Dengan cepat Bapak Willem dan anaknya, Yohanes Redja pergi ke tempat
tersebut. Jenazah mereka disapu dengan handuk kemudian dikubur di situ
juga. Makamnya tidak dalam. Pemakaman ini dilakukan sekedar untuk
menghilangkan jejak saja. Jenazah keduanya lalu dimakamkan kembali
secara besar-besaran pada tanggal 5 Agustus 1950 di Kerkhop Muntilan.
Dengan khidmat peti-peti mayat diusung oleh pramuka dan anggota-anggota
Angkatan Udara dan dimakamkan di tempat pendiri Gereja di antara orang
Jawa, yaitu Romo van Lith yang sudah beristirahat sejak tahun 1926.
Romo Sandjaja menjadi salah satu martir pertama yang sangat terkenal di
Pulau Jawa. Sandjaja telah menjadi symbol ketabahan, kesucian,
kesederhanaan, dan kesetiaan bagi umat Katolik.
Jalan Salip Gereja Gantang Fransiskus Xaverius
Jumat 29 Maret 2013
Dari kali mangu sampai ke lokasi gereja 1,5 km
para umat katolik setasi Fransiskus Xaverius berbondong-bondong merayakan upacara sakral Jumat agung yang jatuh pada hari jumat 29 Maret 2013.
dengan mengunakan alat yang seadanya para umat
beriring-iringan mengikuti yesus yang di peragakan oleh para tokoh karekter yang sudah di pelajari masing-masing .
begitu meriah dan tangis haru...ketika peragaan itu berlangsung
hinga seperti jaman dahulu waktu sengsara yesus di adili dan di jatuhi hukuman mati
dengan mengunakan salip kecil yang terbuat dari bambu para umat pun mengikuti arak- arakan berlangsung meski cuaca sangat panas tapi para umat tak mengeluhkan hal itu..
Gereja gantang memang sering mengadakan jalan salip di luar gereja di karenakan posisi yang sangat strategis karena gereja terletak pada puncak ahir arak-arakan itu seperti golgota sebutan waktu jaman pilatus dulu.
Terlihat para prajurit serdadu memandangi yesus yang sudah selsai di salip kan